Tampilkan postingan dengan label Senjata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Senjata. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Oktober 2016

Jenderal Gatot: TNI Tidak Akan Membeli Senjata Organik Buatan Luar Negeri

JAKARTA – Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menghadiri pembukaan Brimob anniversary shooting championship open tunament (Bascot) ke-5 tahun 2016, di Lapangan Tembak Hoegeng Imam Santoso, Mako Korps Brimob, Kelapa Dua, Depok, Sabtu (22/10/2016).

Dalam kesempatan itu, Jenderal Gatot meminta agar tidak jangan ragu dengan senjata buatan anak bangsa.

Jenderal Gatot: TNI Tidak Akan Membeli Senjata Organik Buatan Luar Negeri


"Karena dengan senjata produksi dalam negeri tersebut para prajurit TNI bisa menjadi nomor satu di dunia, seperti pada kejuaraan menembak internasional AASAM (Australian Army of Skill Arms at Meeting) beberapa waktu lalu di Puckapunyal Military Range, Victoria, Australia, berhasil mengalahkan negara-negara besar, seperti Amerika, Inggris, Australia dan Tiongkok," kata Gatot dalam keterangan yang diterima.

Menurutnya, TNI secara berturut-turut dapat meraih juara satu dengan menggunakan senjata buatan anak bangsa.

"Senjata Pindad ini di dalam negeri tidak begitu terkenal tetapi di luar negeri begitu diperhitungkan, sehingga sekarang yang di produksi oleh Pindad banyak di pesan oleh negara-negara lain termasuk Afganistan," katanya.

"Saya tidak mengijinkan lagi pasukan TNI untuk membeli senjata organik dari luar negeri, tetapi harus membeli produksi dalam negeri, kecuali pasukan khusus dan aksi khusus," kata Panglima TNI.

Terkait kejuaraan Lomba Menembak Bascot ke-5 tahun 2016, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menyambut baik momentum yang bagus karena merupakan ajang yang positif, sekaligus sebagai pengembangan teknik menembak bagi petembak-petembak senior.

"Kejuaraan ini merupakan salah satu ajang untuk melihat kemampuan mereka yang telah berlatih di satuan masing-masing, dandiuji coba disini sampai dimana kemampuannya," ujarnya.

"Yang paling penting ajang ini sebagai tempat untuk pengembangan petembak-petembak TNI agar dapat menjadi juara-juara baru dan bisa bergabung dengan Perbakin, untuk bisa dikembangkan kemampuannya sampai tingkat internasional," katanya.

Kejuaraan menembak Bascot ke-5 tahun 2016 diselenggarakan dalam rangka memeriahkan HUT Korps Brimob ke-71, diikuti oleh para petembak dari Polri, TNI, Perbakin dan para pencinta olahraga menembak dari seluruh Indonesia. Sumber: Tribunnews

Senin, 05 September 2016

Sistem Pertahanan Udara Jarak Menengah Indonesia

Kita sudah lama mendengar dan membahas bahwa sistem pertahanan udara jarak menengah NASAMS (Norwegian Advanced Surface-to-Air Missile System) menjadi salah satu kandidat alutsista baru militer Indonesia. Awalnya kita mendengar bahwa PTDI mendorong agar NASAMS inilah yang nantinya dipilih menjadi sistem pertahanan udara jarak menengah baru Indonesia. Tak lama kemudian, kementerian Pertahanan pun mulai bersuara. Indonesia membutuhkan sistem pertahanan udara jarak menengah, untuk ditempatkan di ibukota negara Indonesia, Jakarta.



Di lain pihak, kita mendengar TNI AU telah mengajukan pembelian rudal AMRAAM untuk pesawat tempur TNI AU. Pengajuan ini sudah sampai ke kongres AS dan kemungkinan besar diterima, tinggal menunggu pengirimannya.

Hal ini semakin menguatkan NASAMS untuk masuk ke dalam daftar baru Alutsista TNI, karena NASAMS menggunakan rudal AMRAAM AS, yang dimodifikasi Norwegia menjadi rudal darat ke udara.

Hal baru bagi saya adalah, ternyata, diduga tim dari Indonesia telah menyurvai rudal NASAMS ini. Di bawah ini adalah gambar yang diduga tim Indonesia yang melihat langsung sistem pertahanan udara NASAMS, yang dipublish di Defence.PK. Saya terus terang belum bisa mengidentifikasi orang yang ada di dalam photo ini.

Dengan kumpulan puzzle ini, semakin kuat NASAMS adalah kandidat kuat sistem pertahanan udara Indonesia yang baru untuk jarak menengah. Apalagi kita ketahui, TNI menyukai membeli sistem alutsista yang mobile. Artinya dalam kondisi mendesak sistem rudal ini bisa dibawa dan dipindahkan ke daerah hot spot. Ini akan membantu tugas TNI AU dalam mengcover, wilayah udara hot spot tersebut.


Jangkayan NASAMS tergantung tipe rudal AMRAAM yang dipasang :

• AIM-120A/B: 55–75 km
• AIM-120C-5: >105 km
• AIM-120D (C-8): >180 km

Kandidat lainnya adalah Sky Dragon 50 buatan Norinco, China. Namun alutsista ini belum terdengar perkembangan beritanya.

Norinco selama ini juga dekat dengan TNI dengan kerjasama bersama Pindad untuk amunisi 105mm, CIWS type 730.

Mana yang akan dipilih ?. Tali temali rudal NASAMS di Indoensia, lebih banyak dibandingkan Sky Dragon 50. Saya menduga rudal ini yang akan dipilih, termasuk menghitung aspek politik internasionalnya. Bagaimana pendapat Anda ?.

Jumat, 12 Agustus 2016

Militer Inggris Akui Senjata Rusia Lebih Tangguh dari Milik Mereka

Tentara Inggris mengakui armada militer Rusia lebih tangguh dibanding persenjataan mereka di medan tempur, tulis media Rusia Sputnik.



Hal tersebut tertuang dalam sebuah laporan yang dibuat oleh Panglima Angkatan Darat Inggris Jenderal Sir Nick Carter pada Maret lalu, yang bocor ke publik dan dikutip oleh media Inggris The Times pada Rabu (10/8).

Laporan tersebut mengatakan bahwa “Apabila terjadi konfrontasi langsung antara NATO dengan Rusia, kita perlu akui bahwa Rusia saat ini memiliki militer yang lebih kuat dibanding elemen tempur Inggris.”

Menurut laporan tersebut, peluncur roket, sistem pertahanan udara, dan persenjataan lain milik Rusia saat ini lebih kuat dibanding persenjataan Inggris. Sementara, armada kendaraan lapis baja Inggris yang rencananya terdiri dari tank-tank ringan dari akan ‘sangat rentan’ saat menghadapi Rusia di medan perang.

Sumber: http://indonesia.rbth.com/news/2016/08/11/militer-inggris-akui-senjata-rusia-lebih-tangguh-dari-milik-mereka_619985

Minggu, 07 Agustus 2016

Mungkinkah AS Perang Lawan Beijing di Laut China Selatan?

Sebuah studi yang dilakukan oleh Angkatan Darat AS lewat semua persiapan perang melawan China setelah Beijing menolak untuk mematuhi keputusan pengadilan arbitrase internasional di Denhaag dan menjadi lebih agresif dalam menanggapi putusan yang merugikan klaim mereka di Laut China Selatan.



Sebuah studi baru oleh RAND Corporation berjudul “Perang dengan China: Berpikir Secara Tak-Terpikirkan” yang ditugaskan oleh Angkatan Darat AS berjalan melalui perencanaan perang melawan rezim Beijing yang dirasa semakin bermusuhan setelah Amerika Serikat ikut campur di wilayahnya tersebut dalam upaya untuk membatasi pengaruh China.

Agresi dari Beijing termasuk sebuah artikel oleh China gerai media pemerintah, Global Times menyerukan perang terhadap Australia atas posisi negara itu mengenai kepemilikan Laut China Selatan. Editorialnya tentang penghinaan bagaimana Australia “didirikan melalui cara-cara tidak beradab” dan Canberra disebut “kucing kertas” dan bersumpah bahwa Australia akan “mendapatkan pelajaran” karena mendukung keputusan internasional terhadap klaim China pada Laut China Selatan yang disengketakan.

Adalah Amerika Serikat, yang bahkan tidak ikut menandatangani Traktat Hukum Laut dimana wilayah sengketa itu konon diputuskan, dimana Filipina mengajukan tuntutan kepada sidang arbitrase internasional terhadap klaim China. Beijing berpendapat bahwa Denhaag tidak memiliki kewenangan yang cukup untuk mendengar kasus ini karena China tidak pernah ikut dalam persidangan.

Meskipun demikian, China berada dalam tekanan yang meningkat dari pemerintahan Obama untuk melepaskan klaim mereka ke Kepulauan Paracel dan Spratly serta jalur perairan yang dilalui 40% perdagangan dunia. Laut China Selatan juga sebagai salah satu dari deposit minyak lepas pantai terbesar didunia.

Ungkapan “berpikir yang tak terpikirkan” berfungsi sebagai alarm dari publikasi Rand Corporation sebagai “think tank” yang sering digunakan sebagai slogan sebelum mendorong pemerintah Amerika Serikat pada beberapa strategi Perang Dingin atau terhadap peningkatan kekerasan di Filipina.

Menurut studi tersebut, “Penelitian ini disponsori oleh Kantor Wakil Angkatan Darat dan dilakukan dengan RAND Arroyo Center Strategi, Doktrin, dan Sumber Daya Program. RAND Arroyo Center, adalah bagian dari RAND Corporation, merupakan penelitian yang didanai pemerintah federal dan pusat pengembangan yang disponsori oleh Angkatan Darat Amerika Serikat.”Kapal induk China, Liaoning dikawal beberapa kapal menuju Laut China Selatan

Studi ini membawa sejumlah asumsi yang dipertanyakan paling menonjol di antaranya adalah bahwa negara-negara besar lain akan menahan diri dari keterlibatan dalam konflik dan pertempuran yang akan tetap terbatas di Asia Timur. Penelitian ini juga mengasumsikan bahwa senjata nuklir tidak akan digunakan.

Studi ini pasti meningkatkan pertaruhan dalam kegagalan “poros Asia” Obama yang seharusnya mengelilingi China untuk membatasi pengaruh regional mereka, strategi yang sangat memprihatinkan hingga menyebabkan peningkatan aktivitas militer di Laut Cina Timur dimana Amerika Serikat bergabung dengan Jepang dan India.

Pada hari Sabtu (06/08/2016), China juga telah bergerak menaikkan taruhan, hanya beberapa hari setelah memperingatkan warganya bahwa negara melihat harus melangkah dan mengambil Laut China Selatan sebagai perang atas tanah mereka, dengan mengeluarkan isu patroli tempur dan mengirimkan legiun kapal, pesawat pembom, dan jet tempur untuk patroli wilayah diwilayah tersebut.

Sumber: Sputniknews 

Kamis, 04 Agustus 2016

Senjata Pindad mampu tembus rompi antipeluru Amerika Serikat

Jakarta (ANTARA News) - Senjata SS1 V1 buatan PT Pindad yang digunakan Korps Marinir TNI Angkatan Laut mampu menembus rompi antipeluru dan helm standar tempur yang digunakan Korps Marinir Amerika Serikat.



Menurut siaran pers dari Dinas Penerangan Komando Armada RI Kawasan Timur yang diterima di Jakarta, Kamis, kemampuan senjata buatan dalam negeri yang digunakan Korps Marinir itu terungkap dalam Latihan Bersama Multilateral The Rim of Pacific (Rimpac) 2016 di Kaneohe, Hawaii, Amerika Serikat.

Kemampuan senjata SS1 V1 itu melampaui kemampuan senjata jenis Steyr dan M4 yang digunakan Marinir Amerika Serikat. Pada saat senjata Marinir Amerika Serikat hanya membuat penyok baja penahan peluru setebal 1,75 sentimeter pada rompi antipeluru, SS1 V1 yang berkaliber 5,56 sentimeter mampu menembusnya.

SS1 adalah singkatan dari Senapan Serbu 1, sedangkan SS1 V1 adalah versi standar senjata tersebut. Senjata itu dibuat berdasarkan senapan FN FNC dengan lisensi dari perusahaan senjata Fabrique Nationale (FN), Belgia.

Latihan Bersama Multilateral Rimpac 2016 diikuti 100 prajurit awak KRI Diponegoro-365 beserta 45 prajurit Marinir. KRI Diponegoro-365 dipimpin Letkol Laut (P) Tunggul, sedangkan prajurit Marinir dipimpin Mayor (Mar) Indra Fauzi Umar.

Rimpac merupakan kegiatan latihan bersama yang diadakan Angkatan Laut Amerika Serikat setiap dua tahun sekali. Kegiatan itu merupakan latihan bersama multilateral terbesar di dunia.


Editor: Unggul Tri Ratomo Sumber : Antaranews

Pindad harus kembangkan produksi non militer

Dirut baru PT Pindad (Persero) Abraham Mose mengatakan siap menuntaskan program transformasi perusahaan dengan fokus pada bisnis utama memproduksi persenjataan dan alat pertahanan serta mengembangkan bisnis non inti (non military).




"Selain tetap meningkatkan kapasitas dan kualitas produksi alat persenjataan, Pindad juga perlu mengembangkan produk non military, untuk menopang pembiayaan produksi bisnis inti," kata Abraham Mose, di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Rabu.

Abraham yang sebelumnya Dirut PT Len Industri (Persero) mulai Rabu, ditunjuk menjadi Dirut Pindad berdasarkan SK-169/MBU/08/2016 yang dilantik langsung oleh Deputi BUMN Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media, Fajar Harry Sampurno.

Abraham menggantikan Dirut Pindad sebelumnya Silmy Karim.

Ia menjelaskan, selain persenjataan, Pindad memiliki kemampuan dalam memproduksi produk non militer yang sangat potensial untuk dikembangkan.

"Generator motor, clip rel kereta api, alat berat escavator. Termasuk mobil listrik, yang ke depan sangat mungkin dikembangkan untuk transportasi perkotaan," ujarnya.

Ia menambahkan, peningkatan kapasitas produk non militer tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu sumber pembiayaan bisnis inti dan modal kerja perusahaan.

"Harus ada subsidi silang, core bisnis tetap, tapi kemampuan produksi non militer juga harus ditingkatkan karena peluangnya sangat besar," katanya.

Meski begitu, Abraham mengatakan porsi bisnis inti tetap diperkuat sesuai dengan visi bagaimana mewujudkan kemandiran industri pertahanan dari sisi teknologi dan sumber daya manusia.

Dari sisi prasarana harus sejalan dengan produk-produk sistem alat persenjataan yang dihasilkan, mulai senjata laras panjang dengan berbagai varian, alat tempur, pistol, kendaraan tempur taktis, munisi kaliber besar dan kecil.

"Target-target yang ditetapkan dalam transformasi Pindad harus tercapai. Kita ini industri yang masih ketergantungan, sehingga harus diperkuat melalui kemitraan dan menerapkan efisiensi," ujarnya.

Profil

Abraham Mose, lahir di Gorontalo pada tahun 1961. Setelah lulus dari Teknik Elektro di Universitas Hasanuddin Makassar, Abraham melanjutkan studi program Magister Management di Universitas Pajajaran Bandung.

Pada tahun 1995, ia menjabat sebagai General Manager untuk Sistem Pengendalian di Len Industri.

Kemudian dari tahun 2000 sampai 2002, Abraham Mose menjabat sebagai General Manager Signalling untuk bisnis transportasi kereta api.

Tahun 2002 hingga 2007, Abraham Mose menjadi General Manager Perhubungan dan pada tahun 2007 menjadi Direktur Pemasaran sampai pada akhirnya Agustus 2012 Abraham Mose dilantik menjadi Direktur Utama Len.

Editor: Tasrief Tarmizi

Sumber Antaranews

Senin, 25 Juli 2016

Uji Tembak Rudal Mistral Atlas TNI AD




Perusahaan senjata yang bergerak di bidang rudal, MBDA, Lapan & TNI-AD melaksanakan Uji Tembak Sistem Rudal Hanud Jarak Pendek Mistral Atlas.

Hasil ujicoba mencapai angka perkenaan 98%, dan cukup memuaskan. Target penembakan mengunakan Bashee target drone.












Sistem yang diujocoba oleh TNI-AD ini, masih sistem manual, bukan RCWS seperti yang ditampilkan dengan basis kendaraan Sherpa dalam HUT-TNI 2014, di Surabaya, Jawa Timur.

Rencananya, sistem rudal Mistral Atlas yang berbasis kendaraan, akan mengunakan rantis Komodo produksi PT. PINDAD.Rudal Mistral Arhanud TNI Angkatan Darat. (fallenpx)Rantis Sherpa dengan rudal Mistral Atlas

Mistral Indonesia
Pada Oktober 2012, Arhanud TNI AD menampilkan rudal Mistral dalam platform Atlas, di Monas Jakarta. Pengoperasiannya dilakukan manual oleh seorang juru tembak, dimana dalam platform peluncur terdapat dua rudal yang siap tembak, dilengkapi kursi kecil untuk operator

Belum diketahui apakah Mistral Arhanud TNI AD sudah dilengkapi dengan pembidik optronik, Matis MP3 (optronic aiming sights), atau masih standar.Mistral Atlas MBDA, Arhanud TNI AD

Spesifikasi Mistral
Panjang : 1,86 meter
Diameter : 90 mm
Berat : 18,7 kg (termasuk 3 kg hulu ledak)
Kecepatan luncur : 800 m/detik atau 2,6 Mach
Jangkauan : efektif hingga 5,3 km
Sistem pemandu : infra red
Mekanisme peledakan : laser proximity atau impact triggered
Mesin : solid rocket motor

MBDA dan Indonesia
Hubungan Indonesia dengan MBDA saat ini, semakin baik, setelah TNI AL memilih MBDA sebagai pemasok rudal anti udara ke light frigate Bung Tomo Class, Indonesia. 16 tube SAM mica Naval diintsal dikapal Bung Tomo Class, menggantikan Sea Wolf (bawaan kapal yang sudah uzur).

Posisi penempatannya berada diantara anjungan dan di belakang kanon OTO Melara pada haluan kapal. Oleh MBDA rudal ini dirancang bisa dioperasikan dalam waktu singkat (rapid reaction), mampu beroperasi di segala cuaca, dan mampu menyesuaikan dengan arah datangnya target hingga 360 derajat.Rudal pertahanan anti-udara VL Mica MBDA

MBDA telah menjadi rekanan TNI untuk memasok beberapa rudal sebelumnya. MBDA (Aerospatiale) Prancis, menjadi vendor untuk rudal Exocet MM-38/MM-40, Mistral Tetral, dan Mistral Simbad untuk TNI AL. Sementara TNI AD juga menggunakan rudal Mistral dengan peluncur Atlas untuk Arhanud.

Sumber : FB : Eko Bayu Ariefianto dikutip dari JakartaGreater.com