Kamis, 13 April 2017

Pelatih Terjun Payung Militer di 46 Negara Itu dari Indonesia, Wanita Pula

Namanya Naila Novaranti, umurnya baru 36 tahun. Ia tidak tenar, terutama di telinga masyarakat Indonesia. Ia pun tidak mencari ketenaran. Fokus hidupnya hanya untuk keluarga dan bekerja.

Penampilannya tidak berlebihan. Merias diri dan berpakaian sewajarnya. Tubuhnya tidak dipenuhi dengan perhiasan yang gemerlap, atau tas dan sepatu yang berharga puluhan juta.

Namun, cerita soal pengalaman dan karirnya membuktikan bahwa kemampuannya justru lebih mahal dari sekadar tas dan perhiasan.

Sekitar 11 tahun lalu ia diterima bekerja sebagai staf pemasaran Aerodyne. Bagi yang asing dengan produk ini, Aerodyne adalah produsen peralatan terjun payung kelas atas di dunia. Ibarat mobil, Aerodyne adalah Mercedez-nya penerjun dunia.






Aerodyne membagi pasarnya menjadi dua, sipil dan militer. Uniknya, Naila justru bertanggung jawab atas penjualan produk Aerodyne di kalangan militer.

Ia mengisahkan, saat bergabung dengan perusahaannya itu, ia tidak banyak tahu soal terjun payung. Tapi keinginannya untuk belajar amat tinggi.
Sebagai orang pemasaran, tentu Naila harus mengetahui detil tiap produk yang ia jual. Dari sinilah ketertarikannya dengan dunia terjun payung, terutama freefall muncul.

Tidak cuma belajar soal spesifikasi produk, ia memberanikan diri untuk belajar olahraga ekstrim ini. "Waktu itu ditawari, mau belajar terjun nggak. Saya langsung mau saja," tambahnya.

Ia belajar freefall di salah satu kantor tempatnya bekerja di Florida, Amerika Serikat. Florida sendiri selama ini dikenal sebagai kiblat dunia terjun payung dunia. Tak ayal jika Naila bisa terjun hingga 10 kali per hari. Tak ayal juga talenta terjunnya terasah dengan baik.

Akhirnya, hingga ia menduduki posisi Manajer Pemasaran untuk produk militer, perusahaan memintanya untuk sekalian melatih kesatuan-kesatuan militer yang menjadi kliennya. Naila harus mendemonstrasikan produk yang ia jual, hingga melatih pemakainya secara langsung.

"Saya tidak bisa sebut kesatuan (militer) mana yang jadi pelanggan kita. Yang jelas, ada 46 negara yang saya latih," ungkap ibu tiga putera ini. Walau tak menyebut kesatuan secara spesifik, Naila menyebut pasukan yang ia latuh banyak yang berasal dari pasukan elit dunia.
Kliennya puas dengan pelayanan yang Naila berikan, begitu juga perusahaan tempatnya bekerja. Perusahaan pun memintanya menjadi seorang pencari bakat, atau talent scout, khususnya di kalangan militer.

"Kami punya beberapa tim terjun yang membawa nama perusahaan ikut kompetisi terjun dunia. Saya kebagian untuk mencari orang-orang yang punya bakat itu," ujarnya sambil menyebut, ada beberapa orang Indonesia yang saat ini juga telah menjadi penerjun kelas dunia.

Tidak cuma sebagai Manajer Pemasaran, pelatih, dan Talent Scout, Naila juga memiliki tim terjun yang amat berprestasi di dunia. Tim yang bernama Simba itu Maret lalu menjadi juara 1 di kompetisi indoor skydiving Shamrock Showdown di Amerika Serikat.


Tim Simba bahkan tercatat bertengger di peringkat tiga besar dunia terjun freefall kelas AA.

Walau perusahaan tempatnya bekerja berbasis di Amerika Serikat, namun Naila tidak berpikir untuk memboyong seluruh keluarganya pindah ke negeri Paman Sam. Baginya, hidup di Indonesia itu amat menyenangkan.

"Saya tidak bisa hidup terlalu lama di sana (Amerika Serikat). Saya ini orang Indonesia banget, tidak bisa kalau tidak ketemu sambal dan nasi," kelakarnya.

Beruntung perusahaannya tidak menuntut Naila untuk menetap di Florida. Naila pun lebih memilih repot bolak-balik Florida-Tangerang, ketimbang harus menetap di sana. "Saya tiap bulan sekitar satu minggu ke Amerika Serikat, kemudian balik ke rumah," tambahnya.

Naila menyebut, orang Indonesia yang membawa sifat-sifat baik khas Indonesia ke luar negeri pasti diminati dan disukai oleh orang luar negeri.


Sebab, menurutnya orang Indonesia adalah orang yang punya loyalitas tinggi terhadap pekerjaan. Selain itu, orang Indonesia adalah manusia yang ringan tangan, mau membantu orang lain walaupun bukan pekerjaan utamanya.

"Misalnya ada staf yang juga penerjun, payungnya butuh perbaikan, mereka minta tolong saya untuk sampaikan ke yang terkait, supaya lebih cepat dikerjakan. Kalau mereka minta sendiri pasti tunggu antrean, lama. Buat saya, ya sudah lah ya, sekalian jalan," jelasnya.

Saat ini Naila berencana untuk meluaskan pengalamannya di bidang lain, namun yang masih berkaitan dengan produk-produk militer dan hobi luar ruangan. Beberapa perusahaan, seperti produsen alat selam, sepatu militer, hingga kompetitor Aerodyne pun sudah berebut meminang Naila menjadi karyawan mereka.

"Saya jadi bingung, karena serba tidak enak, semua yang menawarkan pekerjaan teman-teman yang saya kenal baik. Jadi saya belum tahu akan pindah kemana," tutupnya sambil menunjukkan obrolannya dengan salah seorang petinggi produsen alat selam kelas dunia.


Sumber: goodnewsfromindonesia.id

Rabu, 12 April 2017

Ratusan Anak Rohingya Ditahan Militer Myanmar, UNICEF Turun Tangan

YANGON–Badan Anak PBB (UNICEF) berusaha membebaskan anak-anak Rohingya yang ditahan militer Myanmar. Menurut informasi dari Reuters pada bulan lalu, yang berasal dari dokumen kepolisian yang tidak pernah dirilis ke publik, terdapat ratusan anak-anak sekitar usia 10 tahun ditahan oleh militer. Mereka dituduh memiliki hubungan dengan pemberontak.

Dalam informasi tersebut juga disampaikan sebanyak 13 remaja di antara lebih dari 400 orang ditangkap sejak 9 Oktober lalu. Ketika gerilyawan menyerang tiga pos perbatasan polisi di utara negara bagian Rakhine di dekat perbatasan dengan Bangladesh, menurut dokumen 7 Maret.



Serangan oleh kelompok pemberontak yang tak diketahui itu berhasil mengguncang kekuasaan Aung San Suu Kyi. Serangan tersebut kemudian mendorong 75 ribu etnis Rohingya mengungsi ke Bangladesh sebelum mendapatkan penganiayaan lagi dari militer Myanmar.

“Masalah ini sedang dibahas di dalam pertemuan tingkat tinggi. Dan UNICEF berharap pihak berwenang mengetahui masalah ini dan prihatin agar segera mengambil tindakan,” ujar Perwakilan UNICEF di Myanmar Bertrand Bainvel, dilansir Reuters, Senin (10/4/2017).

Dalam kunjungan terakhirnya ke Myanmar, Direktur Eksekutif Deputi Justin Forsyth telah mendiskusikan nasib anak-anak tersebut dengan Suu Kyi dan kepala militer Min Aing Hlaing. Namun sampai saat ini tidak ada informasi yang jelas apakah akhirnya anak-anak tersebut sudah dibebaskan.

Pada awal tahun ini PBB telah mengecam tindakan militer Myanmar yang melakukan kekerasan terhadap etnis Rohingya. Di mana Myanmar sedang melangsungkan perlawanan terhadap pemberontak. Tindakan terhadap etnis Rohingya itu dinilai melanggar kemanusiaan. Namun pihak militer membantah tuduhan tersebut. Menurut mereka operasi itu adalah operasi melawan pemberontak yang sah.

Sementara itu negara Asia Tenggara telah meratifikasi konvensi internasional yang meminta perlindungan tambahan bagi anak-anak yang dituduh melakukan kejahatan.

Sedangkan menurut hukum domestik, anak-anak pada usia antara tujuh dan 12 tahun hanya dipidana jika dia cukup dewasa untuk memahami konsekuensi tindakan yang dilakukannya. Adapun dua anak yang ditahan itu berusia kurang dari 12 tahun, dan dua lainnya berusia 13 tahun.

Sumber: Republika

Jumat, 03 Februari 2017

Panglima TNI Tinjau Pembangunan Jalan Trans Papua



Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo melakukan peninjauan pembangunan Trans Papua sepanjang 278,6 Km, yang menghubungkan Wamena-Mumugu di Bumi Cenderawasih, Provinsi Papua, Rabu (2/2).

Panglima TNI didampingi Kasad Jenderal TNI Mulyono meninjau Pembangunan Trans Papua yang sedang dikerjakan meliputi ruas jalan Wamena, Habema, Mbua, Yigi, Mugi, Mapenduma, Paro, Kenyam, Batas Batu dan Mumugu dengan melibatkan 382 personel TNI.

Panglima TNI mengatakan bahwa tugas TNI dalam pembuatan badan jalan saat ini sudah mencapai 100% dan tinggal pengaspalan. “Tempat terberat adalah di Batas Batu-Mumugu, karena daerah tersebut berupa rawa-rawa yang hanya bisa dilalui dari sungai. Selain itu, di daerah Yuguru harus dikikis dengan menggunakan bahan peledak karena merupakan tebing dan berbatu,” ujarnya.

Jenderal Gatot menjelaskan bahwa masyarakat sudah merasakan manfaat jalan yang dibangun. Jalan poros Wamena-Mamugu telah memperlancar aktifitas masyarakat dalam mendistribusikan barang dari dan ke daerah Kabupaten Jayawijaya dan sekitarnya. Biasanya mereka melalui sungai selama 12 jam, namun sekarang dengan menggunakan jalur darat hanya ditempuh 3 jam. Saat ini, masih ada 35 jembatan dalam proses pembangunan.

“Baru badan jalan saja masyarakat sudah sangat senang, apalagi kalau diaspal, ini mimpi yang luar biasa. Mudah-mudahan dalam waktu 1,5 tahun jembatan dan pengaspalan bisa diselesaikan,” ungkap Jenderal Gatot Nurmantyo.

Dalam kesempatan tersebut, Panglima TNI menyampaikan terimakasih atas kebersamaan dan bantuan masyarakat untuk bersama-sama membangun jalan. Menurutnya, pembangunan jalan tersebut tidak mungkin dapat terlaksana tanpa bantuan masyarakat.

Pengerjaan jalan tersebut mengerahkan satuan dari Kodam XVII/Cenderawasih maupun dari luar Kodam, diantaranya adalah Satuan Denzipur-10, Denzipur-12, Yonzikon-14 dan Yonzipur-18, serta mengerahkan alat berat yang dimiliki TNI Angkatan Darat berupa Exavator, Dozer, Grader, Dump Truck, Tandem Roller, Tyred Roller, Vibro dan Tangki Air.

Sumber: Puspen TNI

Inspiratif! Kisah Pensiunan TNI Lima Tahun Hafalkan Alquran di Pos Satpam

Inspiratif! Kisah Pensiunan TNI Lima Tahun Hafalkan Alquran di Pos Satpam



JOMBANG – Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Kata bijak itulah yang selama ini membakar semangat Sersan Mayor (Serma) Purnawirawan (Purn) Mohammad Masruchin. Mantan prajurit tempur TNI Batalyon Yonif Lintas Udara 503 Mayangkara itu kini menjadi seorang penghafal Alquran atau hafiz.

Tekad kuat dan semangatnya dalam belajar agama membuatnya mampu menghafalkan 30 juz ayat-ayat Alquran. Bahkan, pria yang kini berusia 60 tahun itu mendapat bonus pergi ke Tanah Suci dan melihat Baitullah. Tak hanya itu, Masruchin juga dinobatkan sebagai wisudawan penghafal Alquran tertua di Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Pagi itu, usai menjalankan salat duha di masjid dekat rumahnya, di Dusun Jasem Desa Watugaluh Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Masruchin tak lantas melakukan rutinitasnya layaknya seorang kepala rumah tangga. Kendati sudah hafal 30 juz bilghoib, ia tetap menjaga keilmuannya itu.

Tangan keriputnya itu lantas mengambil kitab suci umat Islam yang tertata rapi di almari ruang tamu rumahnya. Selanjutnya, lantunan merdu ayat-ayat Alquran menggema di seluruh ruangan 3x4 itu. Bacaannya pun fasih. Meski usianya tak lagi muda, nafas pria tua itu mampu membuat alunan ayat-ayat Tuhan itu terdengar begitu sempurna.

"Saya mulai belajar menghafal Alquran sejak pensiun dari prajurit TNI. Alhamdulillah, karena rida Allah kini saya sudah bisa menghafal 30 juz," kata Serma Purn Masruchin, mengawali ceritanya menjadi seorang hafiz, Sabtu (28/1/2017).

Usai pensiun sebagai prajurit TNI pada 2004, Masruchin lantas mengabdikan diri sebagai staf keamanan di Pondok Pesantren Madrasatul Quran Tebuireng, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. Di pondok itulah ia menjalankan aktivitas sehari-hari sebagai seorang satpam penjaga pondok pesantren.

"Saat menjadi satpam itu, saya melihat para santri yang usianya masih belasan tahun, tapi sudah hafal Alquran. Dari itulah tergerak hati saya untuk belajar menghafal Alquran. Waktu itu sekitar tahun 2011," tutur bapak yang dikaruniai empat anak ini. Semoga Menginspirasi!!

Sumber: http://news.okezone.com/read/2017/02/03/519/1608278/inspiratif-kisah-pensiunan-tni-lima-tahun-hafalkan-alquran-di-pos-satpam

Jumat, 20 Januari 2017

Hadapi Perubahan Global, TNI Rencanakan Penyebaran Pangkalan Militer

JAKARTA - ‎Usai dihelatnya rapat pimpinan (rapim) TNI 2017, beberapa hal strategis yang berkaitan dengan upaya antisipasi perubahan dan dampak global. TNI berencana melakukan penyebaran pasukan dan pangkalan militer di wilayah terpinggir.



"Kami akan mengadakan penyesuaian, penyebaran pasukan, dan pangkalan yang tidak tersentral di Jawa," ungkap Panglima TNI Gatot Nurmantyo di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (19/1/2017).

Tak hanya itu, implikasi dari penyebaran pangkalan tersebut, Panglima TNI akan menyiapkan armada baru, yakni armada pasukan 3.

"Pembentuk Kodam-Kodam baru, Korps baru tidak. Tapi armada baru, armada 3 itu harus dilakukan‎," tegasnya.

‎Pasalnya, sampai saat ini pihaknya kerap berorientasi kepada armada timur saja. Karena itu perlu adanya tambahan armada yang akan ditempatkan di sekitar Papua.

‎Meski demikian, Gatot enggan menargetkan waktu realisasi pembentukan pangkalan dan armada baru tersebut.

"Pembentukannya semua rencana ini harus dilaporkan dulu kepada pemerintah kepada presiden, kemudian setelah dianalisis bersama-sama diputuskan baru dilakukan," terangnya.

‎Selain itu, dengan adanya penyebaran pangkalan dan armada pasukan TNI di tempat-tempat terpinggir diharapkan dapat menggerakkan perekonomian di tempat tersebut.

"Dari pangkalan-pangkalan difokuskan pada tempat-tempat terpinggir supaya bisa membentuk sentra-sentra ekonomi baru," pungkasnya.

Sumber: NewsOkezone

Minggu, 15 Januari 2017

Menkopolhukam : Ada 17.600 Laporan Masyarakat Terkait Pungli

Jakarta- Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Wiranto mengatakan sejauh ini ada 17.600 laporan masyarakat terkait pungutan liar (pungli) yang diterima Satgas Saber Pungli.

“Sampai hari ini ada 17.600 laporan masyarakat. Itu jumlah yang cukup besar. Artinya apa? Masyarakat sadar bahwa tugas pembersihan pungli ini tidak dibebankan hanya pada satgas, tapi masyarakat turut serta aktif untuk melaporkan di mana mereka menemukan (praktik) pungli di wilayah masing-masing,” kata Wiranto di sela-sela acara Kampanye Budaya Anti Pungli, di kawasan Monas, Jakarta, Minggu, 18/12/2016.

Laporan masyarakat terkait pungli tersebut didominasi pada bidang perizinan seperti pada pembuatan surat, sertifikat, hingga paspor.



Menurut dia, acara Kampanye Budaya Anti-Pungli diadakan untuk mensosialisasikan gerakan sapu bersih pungutan liar kepada masyarakat.

Pasalnya, pungli telah membudaya di Indonesia yang mengakibatkan sebagian masyarakat menjadi maklum dengan adanya pungli.

“Pungli itu hampir jadi budaya dan sebagian masyarakat toleran terhadap (adanya) pungli itu. Nah, untuk membersihkannya, hari ini lakukan sosialisasi gerakan budaya sapu bersih pungli. Kami ajak masyarakat untuk sama-sama memberantas keberadaan pungli,” ucapnya, menegaskan.


Sementara untuk meningkatkan efektivitas pemberantasan praktik pungli, Satgas Saber Pungli dibantu oleh Unit Pemberantasan Pungli.

Ia menjelaskan Unit Pemberantasan Pungli dibentuk di tingkat provinsi dan di sejumlah kementerian.

“Kalau Satgas Saber Pungli itu di pusat. Kalau Unit Pemberantasan Pungli itu di kementerian dan provinsi. Kami harapkan laporan masyarakat tidak hanya ke pusat, tapi juga ke unit-unit itu,” tuturnya.

Pihaknya pun menolak anggapan bahwa pemberantasan praktik pungli hanya sebatas wacana saja.

“Ada anggapan bahwa upaya pemberantasan pungli sifatnya sementara saja. Itu tidak benar! Saya pastikan tidak! Sebelum Indonesia terbebas dari pungli, kami tidak akan berhenti (melakukan penindakan),” tegasnya.

Sejauh ini, pihaknya mencatat ada 22 operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan Satgas Saber Pungli di berbagai lembaga dan instansi, baik di tingkat pusat maupun daerah.

Satgas Saber Pungli dibentuk pada 28 Oktober 2016 oleh Presiden Joko Widodo dengan penanggung jawab Menkopolhukam Wiranto dan diketuai oleh Komjen Pol Dwi Priyatno.

Satgas dibentuk dengan tujuan membersihkan Indonesia dari praktik pungutan liar.
Sumber: Jakartagreater.com

Senin, 09 Januari 2017

Pesawat CN-235 Buatan Indonesia, Tiba di Dakar

London – Pesawat CN-235 produksi PT Dirgantara Indonesia (DI) yang dipesan Pemerintah Senegal tiba di Dakar, 6 Januari 2017 setelah menempuh perjalanan selama 11 hari dengan jarak sekitar 16.000 km.

Pesawat multi fungsi yang tiba di Pusat Airforce Senegal, Dakar, merupakan pesawat kedua pesanan Pemerintah Senegal, ujar Pelaksana Fungsi Ekonom KBRI Dakar, Senegal, Rahmat Azhari di London, Minggu, 08/1/2017.



Rahmat mengatakan pesawat yang telah lama ditunggu-tunggu sejak Oktober 2016 itu tiba bersama 15 kru WNI yang terdiri dari empat pilot, dimana salah satunya merupakan warga Senegal, satu flight test engineer dan sepuluh mekanik.

Kedatangan pesawat yang dipiloti Kapten Esther Gayatri Saleh ini disambut Dubes RI Dakar Mansyur Pangeran beserta staf, Jenderal Birame Diop, Kepala Staf Angkatan Udara Senegal beserta jajaranya Mr Pierre Baudechon, Regional Manager ADTrade Belgium bersama jajarannya dan perwakilan dari PT. DI serta Indonesian MilitaryAirworthiness Authority (IMAA).

Jenderal Birame Diop sangat senang dengan datangnya pesawat CN-235 tersebut yang telah lama ditunggu untuk memperkuat armada angkatan udaranya.

Birame menyampaikan kesan baiknya selama kunjungannya ke Indonesia dalam rangka menghadiri serah terima pesawat dari PT DI kepada AD Trade Belgium, dan pelepasan ferry flight CN-235 dari Bandung tanggal 27 Desember 2016.

Dubes Mansyur Pangeran mengatakan kedatangan pesawat CN-235 ini di Dakar merupakan kebanggaan sebagai hasil karya anak bangsa Indonesia yang menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia mampu memproduksi dan bersaing di bidang teknologi kedirgantaraan dengan negara-negara maju lainnya.

Mansyur menegaskan dengan kedatangan CN-235 tersebut dapat dijadikan contoh dalam mempromosikan produk PT DI tersebut ke tujuh negara-negara rangkapan KBRI Dakar lainnya yaitu Gambia, Guinea, Guinea Bissau, Mali, Pantai Gading,Sierra Leone dan Cabo Verde.

Rencananya Senegal akan membeli satu lagi pesawat CN-235 yang akan digunakan untuk kepentingan armada Angkatan Laut yang direncanakan sesuai akan tiba di Dakar tahun 2018.


Mansyur menyatakan negara lain yang telah ingin membeli CN-235 adalah Republik Guinea sebagaimana yang disampaikan oleh Presiden Guinea AlphaConde kepada Presiden Joko Widodo ketika berkunjung ke Indonesia Agustus 2016.

Informasi kedatangan pesawat CN-235 tersebut disampaikan langsung Dubes Mansyur Pangeran kepada Presiden Senegal, Macky Sall pada sore harinya, saat Dubes menghadiri Resepsi Tahun Baru 2017 di Istana Kepresidenan di Dakar.

Presiden sangat senang dan menyampaikan terima kasih atas hubungan kerja sama yang telah terjalin dengan baik selama ini dan meminta untuk ditingkatkan di masa-masa mendatang.

Pesawat yang diterbangkan dari Bandara Husein Sastranegara Bandung, tanggal 27 Desember 2016 dalam perjalanannya ke Dakar, Senegal mengambil rute Medan, Kolombo, Maldives, Karachi (Pakistan), Riyadh (Arab Saudi), Khartoum (Sudan), Ndjamena (Chad), Ouagadougou (Burkina Faso), dan Dakar.

Selama berada di Dakar, Tim PT DI dan IMAA akan melakukan proses administrasi dari register Indonesia (AX) menjadi register Angkatan Udara Senegal pada tanggal 9 Januari 2017.

Sesuai kesepakatan KSAU Senegal dengan PT DI, satu orang mekanik PT DI akan tinggal di Dakar selama satu tahun selama masa garansi. Selama berada di Dakar, seluruh delegasi PT DI dan IMAA difasilitasi AD Trade Belgium.

Dengan tibanya pesawat CN-235 tersebut, Senegal kini memiliki dua pesawat CN-235. Pesawat pertama yang tiba tahun 2011, digunakan untuk kepentingan militer VIP dan pesawat kedua ini untuk multi fungsi, yaitu troop transport, medivac dan VIP.

Upacara resmi serah terima pesawat CN-235 dari AD Trade Belgium kepada Pemerintah Senegal dijadwalkan tanggal 23 Januari 2017.

Antara

Rabu, 21 Desember 2016

Pemerintah Indonesia Tidak Akan Lagi Membeli Pesawat Bekas


Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo memberikan penghormatan terakhir kepada 13 jenazah prajurit TNI Angkatan Udara yang menjadi korban jatuhnya pesawat Hercules C-130 A-1334, di Hanggar Skuadron 32 Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur, Senin (19/12).

Dalam kesempatan itu, Jenderal Gatot menegaskan bahwa TNI tidak akan lagi membeli pesawat terbang bekas. “Presiden sudah menjelaskan untuk selanjutnya, pesawat terbang tidak ada lagi kita membeli pesawat yang tidak baru. Semuanya harus baru,” ujarnya, seperti dilansir sindonews.com pada Senin (19/12).

Panglima TNI menjelaskan bahwa pernyataan Presiden Joko Widodo itu disampaikan pasca jatuhnya pesawat Hercules di Medan beberapa waktu lalu. “Presiden sudah menyatakan demikian, harus kita praktikkan,” katanya.

Jenderal Gatot menambahkan bahwa TNI Angkatan Udara masih membutuhkan banyak pesawat Hercules untuk mendukung kekuatan udara di wilayah Indonesia.

Sumber: sindonews.com

Rabu, 14 Desember 2016

Human Rights Watch: Militer Myanmar Sengaja Hanguskan Desa Rohingya

Yangon - Organisasi HAM internasional, Human Rights Watch (HRW), menyebut citra satelit menjadi bukti pembakaran desa-desa di negara bagian Rakhine, yang menjadi tempat tinggal minoritas muslim Rohingya. Militer Myanmar dituding secara sengaja melakukan pembakaran itu.

Dalam laporannya, seperti dilansir CNN, Selasa (13/12/2016), HRW mengklaim bahwa kerangka waktu berbagai macam insiden juga berbagai bukti yang ada didasarkan pada analisis geografis itu, sejalan dengan praktik operasi militer Myanmar. 



"Konsisten dengan operasi militer dan bukanlah aksi pembakaran desa secara acak," sebut HRW dalam pernyataannya.

Wakil Direktur HRW untuk Asia, Phil Robertson, menyebut citra satelit menunjukkan 'pergerakan' desa yang hangus dari timur ke barat konsisten dengan pergerakan militer Myanmar di Rakhine. "Akal sehat yang umum, memberitahu Anda bahwa militer bertanggung jawab atas hal ini," sebut Robertson.

Lewat operasi militernya, para tentara Myanmar memburu pelaku penyerangan tiga pos keamanan di Rakhine pada Oktober lalu, yang menewaskan 9 polisi setempat. Namun menurut berbagai laporan, baik dari warga Rohingya yang kabur ke Bangladesh juga dari aktivias HAM setempat, operasi itu sarat kekerasan.

Berbagai tindak kekerasan keji seperti pembunuhan, penganiayaan, pemerkosaan, hingga pembakaran desa Rohingya dilaporkan dilakukan tentara Myanmar dalam operasinya di Rakhine. Otoritas dan militer Myanmar telah membantah berbagai tudingan itu.

HRW merilis sejumlah citra satelit yang menunjukkan dengan jelas desa-desa tertentu di Rakhine sebelum dan sesudah hangus terbakar. Saat dikontak CNN, juru bicara kepresidenan Myanmar, Zaw Htay, menyatakan pemerintah akan memberikan tanggapan nanti.

Dalam bantahannya via media nasional Myanmar, pemerintah balik menyalahkan para penyerang pos keamanan mereka yang memicu konflik di Rakhine.

Namun Robertson menyebut, taktik pembakaran rumah-rumah Rohingya kali ini sama seperti modus bumi hangus militer Myanmar dalam konflik di Rakhine sebelumnya. "Kita melihat taktik yang sama, kebohongan yang sama dari militer Burma ketika menyangkut pemusnahan semacam ini," ucapnya merujuk pada sebutan lain untuk Myanmar.

Media nasional Myanmar, Global New Light of Myanmar, melaporkan bahwa nyaris 100 orang tewas, yang terdiri atas 17 tentara dan 76 tersangka, dalam operasi militer di Rakhine. Jumlah itu termasuk enam tersangka yang tewas saat diinterogasi. Global New Light of Myanmar juga menyebut, sekitar 575 orang ditahan dalam operasi militer itu. Sumber: Detik.com di https://news.detik.com/internasional/d-3370269/human-rights-watch-militer-myanmar-sengaja-hanguskan-desa-rohingya

Senin, 12 Desember 2016

Akankah Indonesia Membangun Destroyer Bertenaga Nuklir ?

Berbicara tentang kapal perang permukaan, maka tidak akan terlepas dari konsumsi bahan bakar yang harus disediakan. Kapal perang tidak didisain untuk hemat, tapi lebih ke persoalan performa. KRI Todak yang berukuran 57 meter memiliki tangki BBM 150 ton. Jika berlayar sehari dengan kecepatan ekonomis 15-18 knot, kapal ini menghabiskan BBM 18 Ton. BBM itu akan habis saat kapal berlayar selama 8 hari. Kalau kecepatannya ditingkatkan, konsumsi BBMnya melonjak dan bisa membuat cenat cenut kepala sang Komandan.


Bagaimana jika korvet atau frigate yang dikerahkan untuk patroli di perairan Indonesia yang luas, BBM yang dibutuhkan berlipat-lipat. Sementara Indonesia yang merupakan negara kepulauan merupakan sebuah keniscayaan, yang kini diwujudkan untuk mendapatkan keuntungan darinya, lewat visi poros maritim.

Selain itu, dunia kemaritiman Indonesia menghadapi dilema yang cukup serius dalam menangani praktik penangkapan ikan secara ilegal atau illegal fishing yang terjadi di perairan Indonesia. Tugas TNI Angkatan Laut dalam mengamankan teritori di Indonesia nyatanya tidak bisa berfungsi maksimal. Sebab, dana anggaran bahan bakar minyak untuk kapal-kapal patroli laut sangat minim. TNI bahkan sampai harus berutang Rp 6 triliun untuk mengoperasikan kapal patroli.

“Selama ini, kami utang ke Pertamina, utang jadi makin banyak. Utang terakhir TNI itu sekitar Rp 6 triliun, nggak tahu tuh mau diputihkan atau bagaimana,” kata Panglima TNI Jenderal Moeldoko saat itu, seperti yang dikutip Kompas.com (17/11/2014).

Negara seperti Rusia pun tampaknya menyadari bahwa opoerasional kapal perang identik dengan kebutuhan konsumsi bahan bakar yang besar. Sementara tantangan geopolitik Rusia semakin besar. Untuk mulai tahun 2016, Rusia mulai membangun delapan kapal penghancur bertenaga nuklir terbaru. Bobot kapal penghancur baru ini akan mencapai 17.500 ton, dengan panjang 200 meter dan lebar 20 meter. Kapal mampu bergerak dengan kecepatan hingga 30 knot (sekitar 55 km/jam) dan melakukan misi selama 90 hari tanpa memasuki pelabuhan.

Pembuatan kapal penghancur nuklir Leader telah dimulai. Ada delapan kapal yang hendak dibangun, dan kapal utama akan dibangun dalam periode militer 2020 – 2025. “Kepentingan geopolitik baru muncul dan kini kita perlu hadir di bagian-bagian terpencil planet Bumi. Kapal Leader akan membantu AL Rusia menghadapi tantangan di semua samudra dunia,” ujar Mantan Deputi Komando Angkatan Laut Rusia Laksamana Igor Kasatonov seperti yang dikutip Indonesia.rbth.com.



Reaktor Nuklir BATAN di Serpong, Tangerang, Banten

Mampukah Indonesia membangun kapal perang/kapal patroli yang digerakkan dengan tenaga nuklir ?.


Pada bulan April 2015, Badan Tenaga Nuklir Indonesia (BATAN) mengumumkan, konsorsium Rusia-Indonesia menjadi pemenang lelang untuk tahap pre-desain dalam proyek pembangunan reaktor daya nuklir multifungsi di kawasan Serpong, Banten.

Konsorsium tersebut terdiri dari beberapa perusahaan Indonesia, yaitu PT Rekayasa Engineering dan PT Kogas Driyap Konsultan, serta perusahaan Rusia, NUKEM Technologies GmbH, yang merupakan anak perusahaan Rosatom, BUMN nuklir Rusia.

Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional BATAN, Djarot Sulistio Wisnubroto menyebut reaktor nuklir mini atau Reaktor Daya Eksperimental (RDE) di Serpong, Tangerang Selatan, untuk keperluan penelitian dengan berkapasitas 10 Mega Watt (MW).

“Kita kembangkan reaktor mini atau PLTN mini dengan kapasitas 10 MW. Roadmap sedang disusun,” kata Djarot saat diskusi PLTN di Mampang Prapatan, Jakarta, (16/6/2015).

Djarot mengatakan, untuk membangun RDE, BATAN memerlukan dana Rp 1,6 triliun. Dana diambil dari sumber Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Reaktor tersebut akan melengkapi reaktor riset yang telah ada sebelumnya. RDE varian terbaru tersebut kini memasuki fase pra project.

Reaktor nuklir mini yang akan dibangun di Serpong adalah Reaktor Daya Eksperimental. Mungkinkah dalam riset ini sekaligus dilakukan penelitian, bagaimana jika raktor itu nantinya bisa juga dipasang dikapal perang Indonesia, untuk kapal perang sekelas destroyer. Pembangunan badan kapal destroyer ini diserahkan kepada PT PAL. Sementara pembangkit tenaga nuklirnya dikerjakan oleh BATAN.

Jika proyek ini bisa berjalan, maka Indonesia akan benar benar mengokohkan dirinya sebagai negara poros maritim. Indonesia adalah negara kepulauan dan membutuhkan banyak kapal. Berbicara masa depan, maka kapal yang digerakkan oleh tenaga nuklir adalah kebutuhan. Dan kini, Indonesia sedang mengembangkan kedua teknologi tersebut. Teknologi membangun kapal besar dan teknologi reaktor nuklir mini. Sumber: Jakartagreater.com