Tampilkan postingan dengan label Militer Internasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Militer Internasional. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Mei 2017

Korut Lakukan Uji Coba Rudal, Militer Korsel Siaga

Seoul - Korea Utara dikabarkan melakukan uji coba rudal dari bagian barat laut negara itu pada Minggu pagi waktu setempat. Hal tersebut disampaikan oleh kepala staf gabungan Korea Selatan.

"Militer kami memantau dengan saksama atas pergerakan provokatif Korut dan mempertahankan posisi siaga," demikian pernyataan militer Korsel seperti Liputan6.com kutip dari CNN, Minggu (14/5/2017).

Rudal tersebut diluncurkan di dekat kota Kusong, dan berhasil terbang sejauh 700 kilometer. Kabar terkait uji coba rudal Korut ini pun dikonfirmasi oleh seorang pejabat pertahanan Amerika Serikat, namun yang bersangkutan mengatakan pihaknya masih mencermati jenis rudal.

"Pada titik ini, kami tidak melihat hal yang konsisten terkait dengan peluncuran rudal antarbenua," ujar seorang pejabat pertahanan AS kepada CNN.

Uji coba ini merupakan langkah provokatif perdana yang dilakukan Korut sejak Korsel memiliki presiden baru, Moon Jae-in. Moon sendiri diketahui memilih mengedepankan dialog dalam menyikapi isu Korut.

Sumber dari kantor presiden Korsel menyatakan, pertemuan dengan dewan keamanan nasional pun digelar sebagai reaksi atas uji coba rudal terbaru Korut.

Peluncuran rudal tersebut dinilai sebagai penghinaan terhadap China, satu-satunya sekutu Korut yang memiliki peran besar dalam menggerakkan roda ekonomi negara itu di tengah sanksi yang dijatuhkan dunia internasional.

Pada Sabtu waktu Beijing, Presiden Xi Jinping membuka KTT Belt and Road sebagai bagian dari upaya untuk menghidupkan kembali Jalur Sutra kuno. Tercatat sejumlah kepala negara menghadapi ajang tersebut, termasuk Korut yang mengirimkan sejumlah delegasi.

Rudal yang diluncurkan Korut dilaporkan mendarat di perairan antara Semenanjung Korea dan Jepang. Demikian pernyataan dari pemerintah Jepang.

Sementara itu, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mengutuk aksi Korut tersebut.

"Di tengah peringatan keras dari masyarakat internasional, Korut kembali meluncurkan rudal balistik. Ini benar-benar tidak dapat diterima dan kami memprotes keras. Peluncuran rudal Korut merupakan ancaman serius bagi Jepang dan jelas-jelas melanggar resolusi PBB," terang PM Abe.

Korut Lakukan Uji Coba Rudal, Militer Korsel Siaga


Namun Sekretaris Kabinet Yasuhide Suga menegaskan, pihaknya tidak akan mengambil langkah strategis mengingat jatuhnya rudal bukan di zona ekonomi eksklusif Jepang.

Peluncuran rudal balistik terbaru ini berselang dua pekan dari aksi serupa yang dilakukan tepatnya pada 29 April. Menurut pejabat Korsel dan AS, uji coba sebelumnya berujung kegagalan. Juru bicara Komando Pasifik AS mengatakan, rudal meledak di wilayah Korut.

Korut, setidaknya telah melakukan sembilan uji coba rudal sejak Donald Trump dilantik pada 20 Januari 2017. Beberapa rudal bahkan sampai ke Laut Jepang atau dikenal pula sebagai Laut Timur.

Meski ketegangan antara AS-Korut tidak terelakkan dan cenderung meninggi dalam beberapa bulan terakhir, namun seorang diplomat senior Korut menyampaikan, Pyongyang terbuka untuk melakukan dialog dengan Washington "di bawah kondisi yang tepat."

Sebelumnya, pada awal bulan ini, Trump sempat mengatakan bersedia bertemu Kim Jong-un dalam "situasi yang tepat." Pernyataannya tersebut dinilai kontroversial mengingat selama ini belum pernah ada seorang pun presiden AS yang pernah bertemu Jong-un. Sumber: Liputan6.com

Rabu, 03 Mei 2017

AS Gelar Latihan Militer, Korut Ancam Perang Nuklir

Pyongyang - Media yang dikendalikan pemerintahan Korea Utara (Korut), Selasa (2/5), mengancam bahwa provokasi yang dilakukan Amerika Serikat (AS) dengan menggelar latihan militer memicu terjadinya perang nuklir. Salah satu koran Korut bahkan melontarkan ancaman bahwa rezim Kim Jong Un sudah menunggu saat yang tepat untuk mengubah daratan AS menjadi reruntuhan.



"Terkait dengan provokasi militer yang dilakukan AS, yang semakin jelas dari hari ke hari, situasi di semenanjung Korea bakal semakin mendekati perang nuklir," demikian disebutkan media Korut seperti Beritasatu.com kutip dari Reuters, Selasa (2/5).

Ancaman dari Korut tersebut dikemukakan hanya beberapa jam setelah dua pesawat pengebom AS B-1B Lancer terbang untuk melakukan latihan dengan Angkatan Udara Korea Selatan serta Jepang. Pihak Korut menganggap bahwa latihan militer tersebut adalah bentuk provokasi terhadap kedaulatan mereka.

Kendati melontarkan ancaman bakal melepaskan rudal nuklir ke daratan AS, Korut diyakini belum memiliki kemampuan untuk mewujudkannya. Korut memang sudah melakukan serangkaian uji peluncuran misil jarak jauh, tapi misil-misil tersebut diyakini tidak bakal mengancam Amerika Serikat.

Yudo Dahono/YUD

NBC News

Sumber: Beritasatu.com

Jumat, 28 April 2017

Setiap Tahunnya, 7000 Militer Israel terkena Penyakit Kejiwaan

ISRAEL– Israel Defence Force (IDF) melaporkan bahwa setiap tahunnya ada sekitar 7 ribu tentara Yahudi yang gagal menyelesaikan layanan wajib militer, seperti diterbitkan surat kabar berbahasa Ibrani Haaretz hari Selasa (25/04/2017) lalu.

Mereka yang gagal menyelesaikan layanan militer sebagian besar dikarenakan alasan medis dan psikologis.



Jumlah ini setara dengan 22 persen tentara meninggalkan kesatuannya, termasuk diantaranya 14,6 persen laki-laki dan 7,4 persen perempuan.

Sumber IDF mengatakan bahwa jumlah sebenarnya tentara yang melarikan diri atau tidak melanjutkan wajib militer lebih tinggi, akan tetapi ini tidak dilaporkan secara lengkap dan rinci.

Untuk menghindari pelayanan wajib militer, biasanya banyak keluarga Yahudi mengirimkan anak-anak mereka ke luar negeri.

Kondisi sebaliknya justru dirasakan warga Palestina yang menjadi korban penjajahan Zionis Israel. Di Jalur Gaza saja minat untuk bergabung dengan kelompok perjuangan Palestina seperti Hamas, Jihad Islam dan lainnya terus membludak.

Rakyat Palestina sadar bahwa kemerdekaan mereka tidak dapat diraih kecuali dengan jalan perjuangan dan pertumpahan darah melawan pendudukan entitas Zionis Israel. Sumber: IslamPos

Jumat, 21 Oktober 2016

Reaksi AS Setelah “Diceraikan” Filipina

Amerika Serikat (AS) akhirnya angkat bicara terkait pernyataan tegas Presiden Filipna Rodrigo Duterte, yang menyatakan “selamat tinggal” dengan AS. Pemerintah AS langsung bereaksi dan meminta penjelasan dari Filipina.



Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, John Kirby menyatakan, pernyataan Duterte sangat bertentangan dengan hubungan yang telah dibina kedua negara selama ini. ”Kami akan mencari penjelasan tentang apa yang presiden (Duterte) sampaikan tentang perpisahan dari AS,” ujarnya, Kamis (21/10/2016).

Sebelumnya, dalam kunjungan ke China, Duterte menyatakan Filipina telah berpisah dengan AS dan tidak akan melakukan kerjasama dalam bentuk apapun, termasuk kerjasama dalam bidang militer.

”Di tempat ini, anda yang terhormat, di tempat ini, saya mengumumkan perpisahan saya dari Amerika Serikat. Saya sudah menyesuaikan diri dalam aliran ideologi dan mungkin saya juga akan pergi ke Rusia untuk berbicara dengan (Presiden Vladimir) Putin dan mengatakan kepadanya bahwa ada tiga dari kita melawan dunia, China, Filipina dan Rusia. Ini satu-satunya cara,” tegas Duterte. Sumber: Jakartagreater

Minggu, 07 Agustus 2016

KENDARAAN ROBOT TERCANGGIH RUSIA DAPAT TERJUN DARI PESAWAT

Avrora Biro Desain di kota Rusia Ryazan tengah mengembangkan transportasi serbaguna tak berawak {Robot}Mars A-800 yang dirancang khusuis untuk membawa infanteri di medan perang. Kendaraan robot ini Telah diresmikan pada konferensi Kementerian Pertahanan Rusia yang disponsori oleh robotika baru-baru ini. Kendaraan Robot Mars A-800 transportasi serbaguna tak berawak ini nantinya akan dilengkapi dengan berbagai alat komunikasi canggih.

Kendaraan Robot Mars A-800 transportasi serbaguna tak berawak dirancang khusus untuk menemani infanteri dalam pertempuran dan membawa kargo serta memasok logistik untuk para tentara yang sedang menjalani misi tempur. Kendaraan Robot iini dapat membawa enam tentara.





Kendaraan dengan berat 950 kg dan memiliki daya dukung tinggi 500 kg. Dengan Kecepatan maksimum rata-rata 35 km / jam. Kendaraan Robot Mars A-800 transportasi serbaguna tak berawak ini dapat berenang dengan kecepatan 5 km / jam. Mars A-800 dapat menjalankan misi khusus di suhu sekitar -40 ° C hingga + 40 ° C. Tentunya kendaraan ini dikendalikan dari jarak jauh melalui saluran radio oleh operator tunggal.




Kendaraan dapat beroperasi dalam empat mode:
1. Modus Follow Me menyiratkan dengan cara otomatis dengan platform dari mercusuar aktif melekat seragam operator.
2. Dalam modus Track, Mars A-800 mengikuti rute dengan titik arah yang telah diprogram oleh operator di peta nya.
3.Siklik mengujungi secara terus menerus dari rute yang telah ditetapkan.
4. Operator juga dapat langsung mengendalikan kendaraan dalam modus Remote Control.





Menurut Biro Desain Avrora, hebatnya lagi Kendaraan Robot Mars A-800 transportasi serbaguna tak berawak ini dapat diterjunkan dari Pesawat. Sumber: DetikMiliter.com

Selasa, 02 Agustus 2016

Helikopter Militer Rusia Ditembak Jatuh, Lima Orang Tewas



Helikopter militer Rusia ditembak jatuh di provinsi Idlib, Suriah, wilayah yang dikuasai pemberontak. Lima orang kru dipastikan tewas.

Dilansir dari kantor berita Reuters, Kementerian Pertahanan Rusia mengonfirmasi kebenaran Helikopter Mi-8 ditembak jatuh. Helikopter jatuh sebelum kembali ke Pangkalan Udara Utama Rusia di Provinsi Barat Latakia usai memberikan bantuan kemanusiaan ke kota Aleppo.

"Sejauh yang kami tahu dari informasi yang telah diterima Kementerian Pertahanan, penumpang pesawat tewas, mereka meninggal heroik," kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov dalam konferensi pers, Senin (1/8/2016)

Belum jelas siapa yang bertanggungjawab dalam insiden ini. Sebab, tak ada kelompok yang telah mengklaim penembakan. Sementara, lokasi penembakan tersebut jauh dari aktivitas kelompok Islamic State.

Militer Rusia sejak September tahun lalu telah mendukung Presiden Bashar al-Assad dalam perang saudara di Suriah. Lokasi jatuhnya helikopter berada di sekitar 40 km sebelah timur laut dari basis kelompok pemberontak.

Lokasi tersebut sebelumnya telah dikepung pasukan pemerintah yang mendapat dukungan udara Rusia. Serangkaian serangan kelompok pemberontak telah dilakukan untuk mencoba memecah pengepungan.

Otoritas Moskow telah membuka jalur kemanusiaan untuk warga sipil serta mengimbau mereka untuk meninggalkan wilayah yang dikuasai pemberontak. Selain itu, gencatan senjata juga sudah dilakukan.

Sumber: Metrotvnews

Minggu, 31 Juli 2016

Pasukan TNI Sorotan dan Diandalkan dalam Rimpac 2016

Rim of the Pacific, Rimpac 2016 merupakan latihan angkatan laut terbesar di dunia yang diikuti oleh lebih dari 40 kapal perang dan kapal selam, 200 pesawat udara, dan 25 ribu personel dari 26 negara, tanggal 30 Juni hingga 4 Agustus 2016. Rimpac tahun ini merupakan seri ke-25 sejak pertama kali diadakan pada tahun 1971.



Entah kebenaran atau tidak kapal perang Indonesia korvet KRI Diponegoro-365 termasuk menjadi sorotan dari petugas yang mengabadikan latihan ini lewat helikopter. Korvet KRI Diponegoro-365, disorot cukup lama, berdampingan dengan salah satu destroyer Amerika Serikat.

Baca juga: Latihan bersama kembali digelar untuk memperkuat kerja sama dan hubungan militer Antar Indonesia Malaysia


Sebelumnya KRI Diponegoro-365 melaksanakan latihan Anti Kapal Selam di rangkaian Latihan Bersama Multilateral The Rim of Pacific (Rimpac) 2016 di Pearl Harbor, Hawaii, Amerika Serikat. Latihan yang terbagi dalam serial CASEX 1A dan CASEX 3A itu dilakukan bersama kapal selam Chang Bo Go Class Korea Selatan yaitu ROKS Lee Eok Gi, dan dua unsur udara P3C Orion milik Jepang dan Amerika Serikat. KRI Diponegoro-365 berperan sebagai pemimpin dalam kedua latihan tersebut.



Dalam rangkaian Rimpac 2016 ini pula, tiga negara, yakni : Marinir TNI AL, Amerika Serikat dan Australia masuk ke dalam satu grup yang melakukan simulasi peperangan Drope Zone. Unit militer dari tiga negara ini didrop menggunakan helikopter angkut berat ke garis pantai musuh, untuk menyiapkan basis pendaratan bagi pasukan besar yang akan datang. Pasukan pendahulu dari ketiga negara ini, harus membuat, garis pertahanan, menyiapkan tempat untuk Pos Komando, jalur pendaratan, Pos Logistik, dan sebagainya. Mereka adalah pasukan pembuka, untuk masuknya pasukan yang lebih besar yang akan melakukan pembersihan, masuk lebih jauh ke wilayah musuh.

Dikutip dari JakartaGreater.com