Tampilkan postingan dengan label Senjata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Senjata. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Oktober 2016

Jenderal Gatot: TNI Tidak Akan Membeli Senjata Organik Buatan Luar Negeri

JAKARTA – Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menghadiri pembukaan Brimob anniversary shooting championship open tunament (Bascot) ke-5 tahun 2016, di Lapangan Tembak Hoegeng Imam Santoso, Mako Korps Brimob, Kelapa Dua, Depok, Sabtu (22/10/2016).

Dalam kesempatan itu, Jenderal Gatot meminta agar tidak jangan ragu dengan senjata buatan anak bangsa.

Jenderal Gatot: TNI Tidak Akan Membeli Senjata Organik Buatan Luar Negeri


"Karena dengan senjata produksi dalam negeri tersebut para prajurit TNI bisa menjadi nomor satu di dunia, seperti pada kejuaraan menembak internasional AASAM (Australian Army of Skill Arms at Meeting) beberapa waktu lalu di Puckapunyal Military Range, Victoria, Australia, berhasil mengalahkan negara-negara besar, seperti Amerika, Inggris, Australia dan Tiongkok," kata Gatot dalam keterangan yang diterima.

Menurutnya, TNI secara berturut-turut dapat meraih juara satu dengan menggunakan senjata buatan anak bangsa.

"Senjata Pindad ini di dalam negeri tidak begitu terkenal tetapi di luar negeri begitu diperhitungkan, sehingga sekarang yang di produksi oleh Pindad banyak di pesan oleh negara-negara lain termasuk Afganistan," katanya.

"Saya tidak mengijinkan lagi pasukan TNI untuk membeli senjata organik dari luar negeri, tetapi harus membeli produksi dalam negeri, kecuali pasukan khusus dan aksi khusus," kata Panglima TNI.

Terkait kejuaraan Lomba Menembak Bascot ke-5 tahun 2016, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menyambut baik momentum yang bagus karena merupakan ajang yang positif, sekaligus sebagai pengembangan teknik menembak bagi petembak-petembak senior.

"Kejuaraan ini merupakan salah satu ajang untuk melihat kemampuan mereka yang telah berlatih di satuan masing-masing, dandiuji coba disini sampai dimana kemampuannya," ujarnya.

"Yang paling penting ajang ini sebagai tempat untuk pengembangan petembak-petembak TNI agar dapat menjadi juara-juara baru dan bisa bergabung dengan Perbakin, untuk bisa dikembangkan kemampuannya sampai tingkat internasional," katanya.

Kejuaraan menembak Bascot ke-5 tahun 2016 diselenggarakan dalam rangka memeriahkan HUT Korps Brimob ke-71, diikuti oleh para petembak dari Polri, TNI, Perbakin dan para pencinta olahraga menembak dari seluruh Indonesia. Sumber: Tribunnews

Senin, 05 September 2016

Sistem Pertahanan Udara Jarak Menengah Indonesia

Kita sudah lama mendengar dan membahas bahwa sistem pertahanan udara jarak menengah NASAMS (Norwegian Advanced Surface-to-Air Missile System) menjadi salah satu kandidat alutsista baru militer Indonesia. Awalnya kita mendengar bahwa PTDI mendorong agar NASAMS inilah yang nantinya dipilih menjadi sistem pertahanan udara jarak menengah baru Indonesia. Tak lama kemudian, kementerian Pertahanan pun mulai bersuara. Indonesia membutuhkan sistem pertahanan udara jarak menengah, untuk ditempatkan di ibukota negara Indonesia, Jakarta.



Di lain pihak, kita mendengar TNI AU telah mengajukan pembelian rudal AMRAAM untuk pesawat tempur TNI AU. Pengajuan ini sudah sampai ke kongres AS dan kemungkinan besar diterima, tinggal menunggu pengirimannya.

Hal ini semakin menguatkan NASAMS untuk masuk ke dalam daftar baru Alutsista TNI, karena NASAMS menggunakan rudal AMRAAM AS, yang dimodifikasi Norwegia menjadi rudal darat ke udara.

Hal baru bagi saya adalah, ternyata, diduga tim dari Indonesia telah menyurvai rudal NASAMS ini. Di bawah ini adalah gambar yang diduga tim Indonesia yang melihat langsung sistem pertahanan udara NASAMS, yang dipublish di Defence.PK. Saya terus terang belum bisa mengidentifikasi orang yang ada di dalam photo ini.

Dengan kumpulan puzzle ini, semakin kuat NASAMS adalah kandidat kuat sistem pertahanan udara Indonesia yang baru untuk jarak menengah. Apalagi kita ketahui, TNI menyukai membeli sistem alutsista yang mobile. Artinya dalam kondisi mendesak sistem rudal ini bisa dibawa dan dipindahkan ke daerah hot spot. Ini akan membantu tugas TNI AU dalam mengcover, wilayah udara hot spot tersebut.


Jangkayan NASAMS tergantung tipe rudal AMRAAM yang dipasang :

• AIM-120A/B: 55–75 km
• AIM-120C-5: >105 km
• AIM-120D (C-8): >180 km

Kandidat lainnya adalah Sky Dragon 50 buatan Norinco, China. Namun alutsista ini belum terdengar perkembangan beritanya.

Norinco selama ini juga dekat dengan TNI dengan kerjasama bersama Pindad untuk amunisi 105mm, CIWS type 730.

Mana yang akan dipilih ?. Tali temali rudal NASAMS di Indoensia, lebih banyak dibandingkan Sky Dragon 50. Saya menduga rudal ini yang akan dipilih, termasuk menghitung aspek politik internasionalnya. Bagaimana pendapat Anda ?.

Jumat, 12 Agustus 2016

Militer Inggris Akui Senjata Rusia Lebih Tangguh dari Milik Mereka

Tentara Inggris mengakui armada militer Rusia lebih tangguh dibanding persenjataan mereka di medan tempur, tulis media Rusia Sputnik.



Hal tersebut tertuang dalam sebuah laporan yang dibuat oleh Panglima Angkatan Darat Inggris Jenderal Sir Nick Carter pada Maret lalu, yang bocor ke publik dan dikutip oleh media Inggris The Times pada Rabu (10/8).

Laporan tersebut mengatakan bahwa “Apabila terjadi konfrontasi langsung antara NATO dengan Rusia, kita perlu akui bahwa Rusia saat ini memiliki militer yang lebih kuat dibanding elemen tempur Inggris.”

Menurut laporan tersebut, peluncur roket, sistem pertahanan udara, dan persenjataan lain milik Rusia saat ini lebih kuat dibanding persenjataan Inggris. Sementara, armada kendaraan lapis baja Inggris yang rencananya terdiri dari tank-tank ringan dari akan ‘sangat rentan’ saat menghadapi Rusia di medan perang.

Sumber: http://indonesia.rbth.com/news/2016/08/11/militer-inggris-akui-senjata-rusia-lebih-tangguh-dari-milik-mereka_619985

Minggu, 07 Agustus 2016

Mungkinkah AS Perang Lawan Beijing di Laut China Selatan?

Sebuah studi yang dilakukan oleh Angkatan Darat AS lewat semua persiapan perang melawan China setelah Beijing menolak untuk mematuhi keputusan pengadilan arbitrase internasional di Denhaag dan menjadi lebih agresif dalam menanggapi putusan yang merugikan klaim mereka di Laut China Selatan.



Sebuah studi baru oleh RAND Corporation berjudul “Perang dengan China: Berpikir Secara Tak-Terpikirkan” yang ditugaskan oleh Angkatan Darat AS berjalan melalui perencanaan perang melawan rezim Beijing yang dirasa semakin bermusuhan setelah Amerika Serikat ikut campur di wilayahnya tersebut dalam upaya untuk membatasi pengaruh China.

Agresi dari Beijing termasuk sebuah artikel oleh China gerai media pemerintah, Global Times menyerukan perang terhadap Australia atas posisi negara itu mengenai kepemilikan Laut China Selatan. Editorialnya tentang penghinaan bagaimana Australia “didirikan melalui cara-cara tidak beradab” dan Canberra disebut “kucing kertas” dan bersumpah bahwa Australia akan “mendapatkan pelajaran” karena mendukung keputusan internasional terhadap klaim China pada Laut China Selatan yang disengketakan.

Adalah Amerika Serikat, yang bahkan tidak ikut menandatangani Traktat Hukum Laut dimana wilayah sengketa itu konon diputuskan, dimana Filipina mengajukan tuntutan kepada sidang arbitrase internasional terhadap klaim China. Beijing berpendapat bahwa Denhaag tidak memiliki kewenangan yang cukup untuk mendengar kasus ini karena China tidak pernah ikut dalam persidangan.

Meskipun demikian, China berada dalam tekanan yang meningkat dari pemerintahan Obama untuk melepaskan klaim mereka ke Kepulauan Paracel dan Spratly serta jalur perairan yang dilalui 40% perdagangan dunia. Laut China Selatan juga sebagai salah satu dari deposit minyak lepas pantai terbesar didunia.

Ungkapan “berpikir yang tak terpikirkan” berfungsi sebagai alarm dari publikasi Rand Corporation sebagai “think tank” yang sering digunakan sebagai slogan sebelum mendorong pemerintah Amerika Serikat pada beberapa strategi Perang Dingin atau terhadap peningkatan kekerasan di Filipina.

Menurut studi tersebut, “Penelitian ini disponsori oleh Kantor Wakil Angkatan Darat dan dilakukan dengan RAND Arroyo Center Strategi, Doktrin, dan Sumber Daya Program. RAND Arroyo Center, adalah bagian dari RAND Corporation, merupakan penelitian yang didanai pemerintah federal dan pusat pengembangan yang disponsori oleh Angkatan Darat Amerika Serikat.”Kapal induk China, Liaoning dikawal beberapa kapal menuju Laut China Selatan

Studi ini membawa sejumlah asumsi yang dipertanyakan paling menonjol di antaranya adalah bahwa negara-negara besar lain akan menahan diri dari keterlibatan dalam konflik dan pertempuran yang akan tetap terbatas di Asia Timur. Penelitian ini juga mengasumsikan bahwa senjata nuklir tidak akan digunakan.

Studi ini pasti meningkatkan pertaruhan dalam kegagalan “poros Asia” Obama yang seharusnya mengelilingi China untuk membatasi pengaruh regional mereka, strategi yang sangat memprihatinkan hingga menyebabkan peningkatan aktivitas militer di Laut Cina Timur dimana Amerika Serikat bergabung dengan Jepang dan India.

Pada hari Sabtu (06/08/2016), China juga telah bergerak menaikkan taruhan, hanya beberapa hari setelah memperingatkan warganya bahwa negara melihat harus melangkah dan mengambil Laut China Selatan sebagai perang atas tanah mereka, dengan mengeluarkan isu patroli tempur dan mengirimkan legiun kapal, pesawat pembom, dan jet tempur untuk patroli wilayah diwilayah tersebut.

Sumber: Sputniknews 

Kamis, 04 Agustus 2016

Senjata Pindad mampu tembus rompi antipeluru Amerika Serikat

Jakarta (ANTARA News) - Senjata SS1 V1 buatan PT Pindad yang digunakan Korps Marinir TNI Angkatan Laut mampu menembus rompi antipeluru dan helm standar tempur yang digunakan Korps Marinir Amerika Serikat.



Menurut siaran pers dari Dinas Penerangan Komando Armada RI Kawasan Timur yang diterima di Jakarta, Kamis, kemampuan senjata buatan dalam negeri yang digunakan Korps Marinir itu terungkap dalam Latihan Bersama Multilateral The Rim of Pacific (Rimpac) 2016 di Kaneohe, Hawaii, Amerika Serikat.

Kemampuan senjata SS1 V1 itu melampaui kemampuan senjata jenis Steyr dan M4 yang digunakan Marinir Amerika Serikat. Pada saat senjata Marinir Amerika Serikat hanya membuat penyok baja penahan peluru setebal 1,75 sentimeter pada rompi antipeluru, SS1 V1 yang berkaliber 5,56 sentimeter mampu menembusnya.

SS1 adalah singkatan dari Senapan Serbu 1, sedangkan SS1 V1 adalah versi standar senjata tersebut. Senjata itu dibuat berdasarkan senapan FN FNC dengan lisensi dari perusahaan senjata Fabrique Nationale (FN), Belgia.

Latihan Bersama Multilateral Rimpac 2016 diikuti 100 prajurit awak KRI Diponegoro-365 beserta 45 prajurit Marinir. KRI Diponegoro-365 dipimpin Letkol Laut (P) Tunggul, sedangkan prajurit Marinir dipimpin Mayor (Mar) Indra Fauzi Umar.

Rimpac merupakan kegiatan latihan bersama yang diadakan Angkatan Laut Amerika Serikat setiap dua tahun sekali. Kegiatan itu merupakan latihan bersama multilateral terbesar di dunia.


Editor: Unggul Tri Ratomo Sumber : Antaranews

Pindad harus kembangkan produksi non militer

Dirut baru PT Pindad (Persero) Abraham Mose mengatakan siap menuntaskan program transformasi perusahaan dengan fokus pada bisnis utama memproduksi persenjataan dan alat pertahanan serta mengembangkan bisnis non inti (non military).




"Selain tetap meningkatkan kapasitas dan kualitas produksi alat persenjataan, Pindad juga perlu mengembangkan produk non military, untuk menopang pembiayaan produksi bisnis inti," kata Abraham Mose, di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Rabu.

Abraham yang sebelumnya Dirut PT Len Industri (Persero) mulai Rabu, ditunjuk menjadi Dirut Pindad berdasarkan SK-169/MBU/08/2016 yang dilantik langsung oleh Deputi BUMN Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media, Fajar Harry Sampurno.

Abraham menggantikan Dirut Pindad sebelumnya Silmy Karim.

Ia menjelaskan, selain persenjataan, Pindad memiliki kemampuan dalam memproduksi produk non militer yang sangat potensial untuk dikembangkan.

"Generator motor, clip rel kereta api, alat berat escavator. Termasuk mobil listrik, yang ke depan sangat mungkin dikembangkan untuk transportasi perkotaan," ujarnya.

Ia menambahkan, peningkatan kapasitas produk non militer tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu sumber pembiayaan bisnis inti dan modal kerja perusahaan.

"Harus ada subsidi silang, core bisnis tetap, tapi kemampuan produksi non militer juga harus ditingkatkan karena peluangnya sangat besar," katanya.

Meski begitu, Abraham mengatakan porsi bisnis inti tetap diperkuat sesuai dengan visi bagaimana mewujudkan kemandiran industri pertahanan dari sisi teknologi dan sumber daya manusia.

Dari sisi prasarana harus sejalan dengan produk-produk sistem alat persenjataan yang dihasilkan, mulai senjata laras panjang dengan berbagai varian, alat tempur, pistol, kendaraan tempur taktis, munisi kaliber besar dan kecil.

"Target-target yang ditetapkan dalam transformasi Pindad harus tercapai. Kita ini industri yang masih ketergantungan, sehingga harus diperkuat melalui kemitraan dan menerapkan efisiensi," ujarnya.

Profil

Abraham Mose, lahir di Gorontalo pada tahun 1961. Setelah lulus dari Teknik Elektro di Universitas Hasanuddin Makassar, Abraham melanjutkan studi program Magister Management di Universitas Pajajaran Bandung.

Pada tahun 1995, ia menjabat sebagai General Manager untuk Sistem Pengendalian di Len Industri.

Kemudian dari tahun 2000 sampai 2002, Abraham Mose menjabat sebagai General Manager Signalling untuk bisnis transportasi kereta api.

Tahun 2002 hingga 2007, Abraham Mose menjadi General Manager Perhubungan dan pada tahun 2007 menjadi Direktur Pemasaran sampai pada akhirnya Agustus 2012 Abraham Mose dilantik menjadi Direktur Utama Len.

Editor: Tasrief Tarmizi

Sumber Antaranews

Senin, 25 Juli 2016

Uji Tembak Rudal Mistral Atlas TNI AD




Perusahaan senjata yang bergerak di bidang rudal, MBDA, Lapan & TNI-AD melaksanakan Uji Tembak Sistem Rudal Hanud Jarak Pendek Mistral Atlas.

Hasil ujicoba mencapai angka perkenaan 98%, dan cukup memuaskan. Target penembakan mengunakan Bashee target drone.












Sistem yang diujocoba oleh TNI-AD ini, masih sistem manual, bukan RCWS seperti yang ditampilkan dengan basis kendaraan Sherpa dalam HUT-TNI 2014, di Surabaya, Jawa Timur.

Rencananya, sistem rudal Mistral Atlas yang berbasis kendaraan, akan mengunakan rantis Komodo produksi PT. PINDAD.Rudal Mistral Arhanud TNI Angkatan Darat. (fallenpx)Rantis Sherpa dengan rudal Mistral Atlas

Mistral Indonesia
Pada Oktober 2012, Arhanud TNI AD menampilkan rudal Mistral dalam platform Atlas, di Monas Jakarta. Pengoperasiannya dilakukan manual oleh seorang juru tembak, dimana dalam platform peluncur terdapat dua rudal yang siap tembak, dilengkapi kursi kecil untuk operator

Belum diketahui apakah Mistral Arhanud TNI AD sudah dilengkapi dengan pembidik optronik, Matis MP3 (optronic aiming sights), atau masih standar.Mistral Atlas MBDA, Arhanud TNI AD

Spesifikasi Mistral
Panjang : 1,86 meter
Diameter : 90 mm
Berat : 18,7 kg (termasuk 3 kg hulu ledak)
Kecepatan luncur : 800 m/detik atau 2,6 Mach
Jangkauan : efektif hingga 5,3 km
Sistem pemandu : infra red
Mekanisme peledakan : laser proximity atau impact triggered
Mesin : solid rocket motor

MBDA dan Indonesia
Hubungan Indonesia dengan MBDA saat ini, semakin baik, setelah TNI AL memilih MBDA sebagai pemasok rudal anti udara ke light frigate Bung Tomo Class, Indonesia. 16 tube SAM mica Naval diintsal dikapal Bung Tomo Class, menggantikan Sea Wolf (bawaan kapal yang sudah uzur).

Posisi penempatannya berada diantara anjungan dan di belakang kanon OTO Melara pada haluan kapal. Oleh MBDA rudal ini dirancang bisa dioperasikan dalam waktu singkat (rapid reaction), mampu beroperasi di segala cuaca, dan mampu menyesuaikan dengan arah datangnya target hingga 360 derajat.Rudal pertahanan anti-udara VL Mica MBDA

MBDA telah menjadi rekanan TNI untuk memasok beberapa rudal sebelumnya. MBDA (Aerospatiale) Prancis, menjadi vendor untuk rudal Exocet MM-38/MM-40, Mistral Tetral, dan Mistral Simbad untuk TNI AL. Sementara TNI AD juga menggunakan rudal Mistral dengan peluncur Atlas untuk Arhanud.

Sumber : FB : Eko Bayu Ariefianto dikutip dari JakartaGreater.com

Jumat, 29 April 2016

Pasukan TNI Perbatasan Gelar Pameran Alusista

TNI dari Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) RI-RDTL Sektor Barat, Yonarmed 11/Kostrad menggelar pameran alat utama sistem persenjataan (alusista) di halaman Kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Timor Tengah Utara, NTT, menjelang Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas).



Rupanya deretan senjata milik TNI, itu bukan barang yang menakutkan bagi siswa yang datang berkunjung. Nyatanya satu per satu siswa diberi kebebasan oleh personel TNI untuk memegang, bahkan berfoto atau selfie bersama alusista tersebut.

Komandan Satgas Pamtas RI-RDTL Sektor Barat, Letkol Arm Teguh Tri Prihanto Usman menyebutkan pameran itu sebagai wisata militer. Senjata sengaja dipajang dalam tenda agar siswa lebih mengenal jenis-jenis senjata api dan peralatan TNI lainnya.

"Wisata militer, kami tampilkan alusista yang kami bawa dengan harapan bisa menumbuhkan semangat dan kemauan adik-adik (pelajar) yang ada di Kota Kefa untuk lebih mengenal tentang peralatan TNI," ujarnya.

Uniknya, bukan saja siswa SMP dan SMA yang berminat mencoba alusista milik TNI. Namun ada juga anak-anak berumur di bawah lima tahun ingin memegang pelatuk senjata api dan mencoba membidik sasaran. Sumber: OkeZone

Baca:

Pesawat CN235-220 TNI AL Ikut Dipamerkan di Singapore Airshow

Rabu, 20 April 2016

Inilah Senjata Sniper Legendaris Indonesia, Tatang Koswara

Dalam operasi Seroja di Timor Leste (d/h Timor Timur), tak kurang 3.000 pasukan TNI dari berbagai kesatuan telah gugur di medan pertempuran. Tentu jumlah tewas yang lebih besar dirasakan oleh pihak lawan. Dan dibalik sepak terjang operasi tempur yang berlangsung dua dekade tersebut, ada sosok yang amat ditakuti fretilin dan Tropaz, yakni sniper (penembak jitu) legendaris Pembantu Letnan Satu (Peltu) Tatang Koswara dari Pusdikif (Pusat Pendidikan Infanteri) TNI AD.

Baca juga: Indonesia Pengimpor Senjata Terbesar Ke 8 Di Dunia

Tatang Koswara telah tutup usia pada 3 Maret 2015 lalu, namun dedikasi dan prestasinya akan terus dikenang, karena memang belum ada yang menandingi di Indonesia sampai saat ini. Dari beragam aksi heroik Tatang di Timor Timur, aksi di tempur di Remexio, bagian selatan kota Dili menjadi momen emas uji ketangguhan Tatang. Dalam serbuan senyap di Remexio, Tatang berhasil menewaskan 49 musuh. Dari 50 peluru kaliber 7,62 mm yang dibawa, hanya tinggal satu butir yang tersisa dan dibawanya kembali menuju markas. Dalam setiap penugasan, sniper sengaja menyisakan satu peluru untuk misi bunuh diri bila terdesak.

Inilah Senjata Sniper Legendaris Indonesia, Tatang Koswara

Tatang Koswara di Heli NBO-105 Puspenerbad saat operasi Seroja.

Dalam setiap tugas pengendapan, Tatang faktanya tak pernah membawa buku catatan untuk mencatat jumlah kill. Data tentang jumlah korban dari tembakan Tatang justru dicatat oleh Letnan Ginting yang berperan sebagai pengawal Tatang dalam misi di Remexio. Berdasarkan bahan tercatat tersebut, seorang penulis buku Sniper asal AS, Peter Brookesmith, lewat bukunya “Sniper: Training, Techniques and Weapons,” memasukkan prestasi Tatang sebagai sniper kelas dunia dengan confirmed kills sebanyak 41. Jumlah kills 41 yang dicatat Peter sebenernya jauh dari hitungan sebenarnya, karena Tatang sendiri dalam misi tempurnya di Timor Timur mengaku telah menumbangkan sasaran lebih dari 100 orang.

Inilah Senjata Sniper Legendaris Indonesia, Tatang Koswara





Inilah Senjata Sniper Legendaris Indonesia, Tatang Koswara

Winchester M-70

Sebelum bergabung dengan TNI, Tatang sejatinya sudah memiliki bakat menembak sedari kecil lewat aksi berburu binatang di hutan. Dan bakat alam itulah yang mendukung kemampuan Tatang dalam penugasannya di militer. Meski punya bakat alam sebagai sniper, namun kemampuan menembak Tatang tidak akan maksimal bila tak ditunjang jenis senapan yang mumpuni. Dan, untuk urusan senapan dalam aksinya di Timor Timur, Ia memilih Winchester M (Model)-70.

Baca: PT PINDAD: Senjata Indonesia Go Internasional

Perjumpaan Tatang dengan Winchester M-70 juga punya kisah tersendiri, pasalnya di tahun 70-an belum hadir senapan penembak runduk buatan dalam negeri seperti SPR-1, SPR-2 dan SPR-3. Ceritanya pada tahun 1974 atas prakarsa Danjen Kopassus saat itu, Mayor Jenderal Mung Purhadi Mulyo, dihadirkan pelatih sniper dari elemen Green Beret. Sebagai unit pelaksana berasal dari 30 Batallion 1st Special Forces Group yang punya kemampuan khusus pada perang anti gerilya. Semua siswa akan dinilai melalui semacam uji menembak dari berbagai jarak dan situasi yang dikondisikan seperti pertempuran sungguhan. Dari 30 siswa sniper hasil gemblengan Green Berets, hanya 17 orang yang lulus dan masing-masing langsung dihadiahi senapan sniper Winchester M-70. Diantara 17 orang itulah terdapat nama Tatang Koswara.


Inilah Senjata Sniper Legendaris Indonesia, Tatang Koswara



Beragam varian Winchester M-70.

Slot magasin.


Magasin Winchester M-70.


Senapan Winchester M-70 buatan AS yang digunakan Tatang adalah senapan sniper canggih di jamannya. Di tangan Tatang yang telah mendapatkan latihan beragam kemampuan tempur, Winchester M-70 yang beroperasi dengan sistem bolt action menjadi senjata yang sangat mematikan serta sangat efektif dan efisien saat dipergunakan mengeliminasi sasaran terpilih.
Namun tanpa Winchester M-70 yang dilengkapi alat peredam suara (silencer), teropong bidik malam (night vision), dan akurasi tembakan yang mencapai 900 meter, kemampuan menembak jitu Tatang mungkin juga tidak maksimal. Kombinasi senapan penembak runduk yang canggih dan keterampilan Tatang yang terlatih baik menjadikannya sebagai sniper kaliber dunia.

Dirunut dari sejarahnya, Winchester M-70 dirancang untuk memuaskan kultur berburu masyarakat AS yang terus meningkat dan juga untuk kepentingan militer. Winchester M-70 dikembangkan dari pendahulunya Winchester M-54, dan mulai diproduksi perdana pada tahun 1936. Pada saat itu, Winchester M-70 langsung mendapat pengakuan dan reputasi di kalangan komunitas pemburu. Lewat debutnya yang battle proven di banyak laga pertempuran, ikon senapan berburu ini nyatanya terus diproduksi dalam berbagai varian hingga tahun 2006.




Kiprah Winchester M-70 cukup cemerlang dalam banyak pertempuran. Dalam Perang Dunia II, senapan ini digunakan oleh Marinir AS (USMC) di laga Pasifik melawan Jepang. Pasca Perang Dunia II dan Perang Korea, Winchester M-70 tetap dirawat dan direkondisi sesuai kebutuhan AS. Produksi sesuai standar rekondisi pun terus dilakukan dan dioperasikan militer AS, khususnya untuk kepentingan perlombaan menembak jitu antar satuan. Komponen yang digunakan dalam rekondisi Winchester M-70 seperti teleskop bidik 8X Unerti yang biasa digunakan pada senapan sniper M1903-A1. Saat meletusnya Perang Vietnam, Wichester M-70 yang dioperasikan sudah di upgrade sehingga punya kinerja lebih maksimal.


Aksi Lance Corporal Dalton Gunderson dari 3rd Marine Division dengan Winchester M-70 dalam Perang Vietnam..

Personel US Army dengan Winchester M-70 di medan Vietnam.

Sniper Marinir AS dengan Winchester M-70 plus didampingi Spotter di laga Perang Vietnam.

Salah satu sniper legendaries USMC yang berjaya di Vietnam adalah Sersan Carlos Hatchcock dengan Winchester M-70. Berbekal Winchester M-70 yang dilengkapi alat bidik standar 8X43 Unerti, Hatchcock berhasil mengeliminasi sniper Vietcong melalui tembakan berakurasi tinggi tepat di bagian mata lawan. Peluru Winchester yang melesat menghantam tepat di teleskop senapan mesin Mosin Nagant sniper lawan dan selanjutnya menembus matanya.

Baca: TNI AD Menang Telak Lomba Menembak, Panitia Sewot

Selain memiliki jarak tembak hingga 1.000 meter, magasin Winchester M-70 juga bisa digunakan untuk menembakkan beragam kaliber peluru, sehingga ketika kehabisan peluru, sniper yang bersangkutan bisa meminta peluru senapan laras panjang dari pasukan reguler.

Tidak seperti sniper di era masa kini yang selalu bertugas bersama spotter dan dibekali gear lengkap mulai dari senjata, logistik, dan peralatan medis. Maka Tatang dalam menjalankan misi hanya dilengkapi senapan Winchester M-70, senapan otomatis AK-47 untuk bela diri, beberapa granat, dan peta. Khusus untuk perlengkapan medis hanya dibawa seperlunya. (Disarikan dari buku Satu Peluru Satu Musuh Jatuh – Tatang Koswara Sniper Kelas Dunia – A. Winardi)

Spesifikasi Winchester M-70

– Manufaktur: Winchester Repeating Arms Company
– Sistem operasi: Bolt action (tembak satu-satu)
– Kaliber: 7,62 x 51mm/30-06 Springfield
– Panjang laras: 660 mm
– Berat kosong: 3,62 kg
– Kapasitas magasin: 3/4 atau 5 peluru
– Pembidik: Iron front dengan adjustable rear atau optical optics
– Jarak tembak: Hingga 1.000 meter (bergantung pada jenis laras dan amunisi)

Sumber: IndoMiliter.com

Kamis, 11 Februari 2016

Benarkah Korea Utara Ujicoba Bom Hidrogen?

Korea Utara klaim sukses ujicoba bom Hidrogen. Seismogram sedunia juga catat getaran gempa lebih kuat dari ledakan bom nuklir. Tapi apakah benar Pyongyang mampu buat bom Hidrogen?

Benarkah Korea Utara Ujicoba Bom Hidrogen?


Para pakar nuklir mayoritasnya meragukan bahwa rezim di Pyongyang mampu membuat Bom Hidrogen yang daya ledaknya lebih hebat dari bom atom. Indikasi menunjukkan gempa berkekuatan 5,1 pada skala Richter di dekat lokasi ujicoba. Televisi resmi Korea Utara melaporkan, negara itu sukses ujicoba bom Hidrogen.

Namun pakar nuklir dan kontrol senjata dari Australia, Crispin Rovere mengatakan; “Data seismik yang tercatat mengindikasikan ledakannya di bawah kekuatan letusan bom Hidrogen.“ Kemungkinan Pyongyang sukses melakukan ujicoba nuklir tahap pertama, tapi gagal memicu secara komplit tahapan kedua untuk ledakan Hidrogen, Rovere menambahkan.

Baca: Sumber Dana Nuklir Korut, dari Pemerasan Hingga Pajak
Tapi terlepas dari berbagai tafsiran dan perkiraan, yang jelas Korea Utara masih terus melakukan ujicoba senjata atomnya tanpa takut sanksi internasional. Juga bukti bahwa intensitas ledakannya amat kuat, walaupun di bawah daya ledak bom Hidrogen, tetap memicu kecemasan. Ini ditegaskan oleh Chritopher Hill mantan ketua juru runding enam pihak terkait sengketa atom Korea Utara.


Reaksi Internasional

Terkait ujicoba terbaru bom atom Korea Utara tersebut, sejumlah negara tetangga melontarkan kecaman keras. PM Jepang Shinzo Abe mengatakan di Tokyo, “Ujicoba nuklir itu merupakan ancaman serius bagi kemanan negara kami dan tidak bisa ditolerir.“ Jepang kini berusaha melakukan koordinasi di PBB untuk menanggapi ujicoba nuklir terbaru Korut.


Presiden Korea Selatan, Park Geun-Hye mengecam ujicoba nuklir itu sebagai provokasi berat, sekaligus ancaman serius bagi masa depan Korsel. Ia juga langsung memangil dewan keamanan nasional Korsel untuk menggelar sidang darurat. Seoul menyebut akan mengambil langkah yang diperlukan, termasuk menyerukan tambahan sanksi lewat Dewan Keamanan PBB.

Cina sejauh ini tidak melontarkan reaksi resmi. Namun sebuah komentar yang ditulis kantor berita resmi Xinhua menyebut aksi tersebut amat disesalkan karena melanggar resolusi PBB. Perancis dan Australia juga sudah melontarkan keceman resmi. PBB juga menggelar sidang darurat membahas aksi Pyongyang tersebut. Sumber: dw.com

Baca: Petir V-101: Wujud Kebangkitan Rudal Nasional

Minggu, 07 Februari 2016

HEBAT!! Mahasiswa ITS ini Berhasil Buat Robot Tank Untuk TNI

Sebuah prestasi mulia ditorehkan oleh mahasiswa Institut Teknologi 10 November (ITS). Bachtiar Dumais Laksana bersama Adhitya Whisnu Pratama dan Muhammad Iqbal berhasil membuat tank tanpa awak pertama. Robot tank itu akan didedikasikan sebagai peralatan tempur TNI.




Tank yang dikendalikan dengan remote control itu dirancang, dirakit dan diproduksi sendiri oleh tiga mahasiswa ITS tersebut. Tank yang diberi nama War-V1 itu belum diproduksi massal, masih berupa prototipe. Tank robot tersebut sudah dilirik oleh Kodam Kodam VI/Mulawarman di Balikpapan dan Batalyon Kavaleri 8 Divisi Infantri 2 Kostrad di Bandung.

Baca juga : Seragam Militer Buatan Mahasiswa Indonesia Mendunia

Pembuatan tank robot tersebut berawal dari hobi ketiganya di dunia militer. Dengan latar belakang lulusan elektro SMK, mereka mulai berusaha merealisasikan mimpi tersebut. Menurut Bachtiar, desain dan model tank tersebut berasal dari robot yang digunakan oleh militer Jepang.


Bachtiar menguji komponen Robot Tank (Merdeka.com)

"Kemudian kami coba, itungannya nekat. Saya tanya ke Batalion Kavaleri sampai Kodam, yang berikan tanggapan positif Kodam Mulawarman dan Batalion Kavaleri 8. Jadi kemudian dengan konsep yang ada, kendaraannya saya sendiri inginnya berfungsi sebagai back up, di lapangan sebagai sweeper atau penyapu, setelah infantri masuk mampu di back up unit ini. Makanya mulai dari senjata sistem kami sesuaikan dengan tujuan aplikasi," kata mahasiswa berusia 23 tahun ini seperti dikutip Merdeka.


Kemudian kami coba, itungannya nekat

Untuk mensukseskan aktifitasnya, ketiga mahasiswa tersebut membuat perusahaan sendiri bernama BDL-Tech. Proses pembuatan robot itu berlangsung 13 bulan hingga hadirnya prototipe seperti sekarang. Karena belum mendapatkan bantuan dari pihak manapun, mereka pun masih menggunakan modal sendiri untuk membeli komponen dan alat pendukung. Hal itu mengakibatkan mereka sempat kesulitan mendatangkan komponen yang lebih memadai sebab komponen dari China itu harganya belasan juta rupiah belum termasuk bea impor. (Tarbiyah)

Baca juga: BANGGA! Senjata Buatan Pindad ini Bisa Tembus Tank Baja, Dunia Geger

Rabu, 03 Februari 2016

PT PINDAD: Senjata Indonesia Go Internasional

PT Pindad menunjukkan eksistensinya di dunia militer Internasional. Produsen senjata asal Indonesia itu melakukan ekspansi bisnis di pasar Timur Tengah.

Dikutip dari website resmi PT Pindad, mereka telah berhasil menjual lisensi pembuatan Senapan Serbu 2 (SS2) ke perusahaan senjata Uni Emirat Arab bernama, Continental Aviation Service (CAS).

Kontrak kerjasama PT Pindad dan CAS itu dilakukan saat Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan ke Abu Dhabi pada Septemer 2015 lalu. SS2 memang salah satu produk andalan Pindad.

SS2 adalah senapan serbu buatan PT Pindad yang merupakan generasi kedua dari senapan serbu Pindad sebelumnya bernama SS1.

Senjata tersebut memiliki desain lebih ergonomis, akurasi lebih baik, tahan terhadap kelembaban tinggi dan lebih ringan.

Baca: Inilah Senjata SSX Buatan Pindad Pesaing AK-47

PT PINDAD: Senjata Indonesia Go Internasional









Spesifikasi SS2


Jarak jangkauan tembak SS2 mencapai 400- 500 meter. Senjata itu dilengkapi teleskop Trijikon atau Close Quarter/Tactical CQT.

Senjata SS2 bisa dipasang peredam, teropong malam, bayonet, serta pelontar granat kaliber 40 milimeter.

Senjata itu juga bisa dilipat sehingga mudah untuk dibawa oleh prajurit di lapangan. SS2 menggunakan peluru kaliber 5.56 x 45 mm standar NATO dan memiliki berat kosong 3,2 kg.

SS2 dilengkapi ball stopper, sehingga ketika peluru habis ditembakkan, tidak perlu mengokang kembali senjata untuk pengisian magasin.

Keunggulan lain adalah minimnya entakan saat dipakai menembak, serta bisa memuntahkan peluru tunggal ataupun rentetan. Senjata SS2 mulai diproduksi pada 2006. Hingga saat ini sudah ada delapan gerasi

Baca: R: Senapan Sniper Anti Material Tank Buatan Pindad Berkualitas Dunia

Senin, 01 Februari 2016

SALUT!! Inilah 6 Prestasi TNI Di Kancah Dunia Yang Bikin Bangga Indonesia

Tentara Nasional Indonesia (TNI) bukanlah prajurit sembarangan. Hingga HUT yang ke-70 tahun lalu, kualitas TNI juga sudah diakui dunia.Tak cuma sigap setiap kali bencana menimpa Tanah Air, tentara-tentara nasional ini juga ikut turun tangan membantu negara lain yang memerlukan bantuan.



Tidak cuma itu, sederet prestasi di ajang internasional juga disabet TNI. Apalagi lomba tembak dunia, semua kategori pasti dilibas habis.Kemampuan menembak prajurit TNI sudah tak terbantahkan lagi. Seperti di ajang Australia Army Skill at Arms Meeting (AASAM) 2015, TNI berhasil memborong gelar juara. Kemenangan itu adalah yang ke-8 kalinya.

Namun prestasi prajurit-prajurit Tanah Air ini tak berhenti di situ. Masih ada sederet lagi sepak terjang TNI yang bikin bangga Indonesia. Berikut catatannya yang dihimpun.


1. 8 Kali Juara Tembak Australia



Kontingen TNI AD berhasil memborong 30 dari 50 medali emas dalam perlombaan Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM). Tak ketinggalan 16 perak dan 10 perunggu. Kemenangan ini merupakan yang ke-8 kalinya bagi Indonesia sejak 2008 lalu.Total 21 orang penembak dari Indonesia terdiri dari pejabat dan penembak profesional dari lingkungan TNI AD serta teknisi dari PT Pindad.

Baca: TNI AD Menang Telak Lomba Menembak, Panitia Sewot
Selama perlombaan, tim Indonesia menggunakan empat jenis senjata, yaitu senapan buatan dalam negeri SS-2 V-4 Heavy Barrel dan pistol G-2 (Elite & Combat) dari PT Pindad, senapan SO-Minimi buatan Belgia, senapan GPMG (General Purpose Machine Gun) buatan Belgia, dan senjata sniper AW buatan Inggris.


2. Juara Tembak di Brunei

Kontingen TNI sukses menyabet status juara umum di Lomba Tembak Brunei International Skill Arms Meet (BISAM) ke-11 tahun 2015. Dalam ajang yang diikuti 16 negara peserta tersebut, TNI mampu menyabet total 34 medali.Medali-medali itu terdiri dari individu meraih 20 emas, 9 perak, dan 5 perunggu.



Kontingen TNI dipimpin Komandan Kontingen Kolonel Arm Budi Suwanto berjumlah 35 orang. Mereka meliputi 13 official, 10 atlet petembak senapan, 6 atlet petembak SO/GPMG, dan 6 atlet petembak pistol.


3. Juara se-ASEAN

TNI juga menunjukkan taringnya di kompetisi tahunan di ASEAN Armies Rifle Meet (AARM) ke-24 yang digelar di Vietnam pada 2014 lalu. Dalam ajang itu, TNI AD berhasil menjadi juara umum. Total ada 60 anggota TNI AD mengikuti AARM di Vietnam dengan berbagai kategori.



Dari 60 anggota TNI AD, sebanyak 37 anggota satuan dari Komando Pasukan Khusus (Kopassus) bergabung dalam kontingen TNI yang dipimpin oleh Mayor Infanteri Faisal Izudin. Mayor Faisal menyatakan anggotanya mampu membabat habis semua kategori yang ada di AARM 24. Dari kategori lomba perorangan maupun kelompok.


4. Perbaiki Jalan di Afrika

September 2015, prajurit TNI ikut memperbaiki jalan sepanjang 1.500 meter di Afrika Tengah. Jalan yang diperbaiki itu menghubungkan Kampung Ngonggono dan Area Super Camp Minusca menuju Bandara Internasional Bangui-M’poko, ibukota negara Republik Afrika Tengah. Akses jalan Bandara Internasional Bangui-M’poko mengalami rusak parah dan berlubang. Setiap hujan turun banyak terdapat genangan air di sana.



Kondisi itu pun berpengaruh terhadap arus lalu lintas sekitar menuju jalur-jalur penting, terutama jalur menuju Bandara M’Poko yang hanya memiliki satu jalur yaitu A’Venue d’Martys. Para prajurit itu tergabung dalam Satuan Tugas Kompi Zeni (Satgas Kizi) TNI Kontingen Garuda XXXVII-B/Minusca (Multi-Dimensional Integrated Stabilization Mission in Central African Republic).


5. Sisir 6 Ton Peledak di Afrika

Pada 6 Juli 2015 satu tim penjinak bahan peledak Satgas Kizi TNI Kontingen Garuda (Konga) XXXVII-A/Minusca tengah melakukan pendeteksian di sebuah perkampungan yang terletak di Camp Beal, Bangui, Afrika Tengah. Hasilnya, tim berhasil mengevakuasi 6 ton bahan peledak aktif.



Kegiatan tersebut dipimpin oleh Perwira Seksi Operasi Lettu Czi M Iqbal bersama beberapa personel United Nation Mine Action Service, salah satu badan PBB yang mengurusi persoalan bahan peledak, dan ranjau di negara-negara konflik. Maka tak heran jika Perserikatan Bangsa-Bangsa memberikan Penghargaan Medali PBB kepada 200 TNI yang tergabung dalam misi perdamaian di Afrika Tengah tersebut.


6. Bantu Korban Topan Haiyan


Angin kencang diikuti serangan badai dan ombak tinggi menyapu puluhan rumah saat topan haiyan menghantam Filipina pada 8 November 2013 lalu. Saat itu Indonesia turun tangan membantu korban topan dahsyat tersebut. 3 Pesawat angkut C-130 Hercules TNI dikirimkan ke Cebu, Filipina. Ketiga pesawat membawa bantuan kemanusiaan dengan total berat 60 ton. Bantuan kemanusiaan itu berupa makanan siap saji, obat-obatan, pakaian, genset, dan selimut.



Tak berhenti di situ, TNI lalu mengirimkan lagi 1 pesawat C-130 Hercules bernomor A-1323. Pesawat itu dipinjamkan kepada Pemerintah Filipina. Pengiriman bantuan pesawat ini merupakan permintaan dari Pemerintah Filipina langsung. Tak cuma sembako, pesawat yang dipimpin Mayor Pnb Puguh Yulianto itu juga mengangkut puluhan pengungsi yang akan kembali ke Tacloban.

Itulah beberapa sepak terjang Tentara Nasional Indonesia hingga usianya yang menginjak ke-70, sudah banyak sumbangsih TNI yang diberikan kepada bangsa ini, juga dunia. Semoga makin jaya kedepanya dan bisa membuat Indonesia Bangga dan lebih dikenal di kancah Internasional. Maju Terus TNI!! Sumber: Mardeka.net

Baca Juga: 5 Fakta Kehebatan TNI ini Bisa Membuat Anda Semakin Bangga dengan Indonesia

Kamis, 28 Januari 2016

Sejarah: KRI Irian 201, Simbol Persahabatan dan Saksi Runtuhnya Hubungan Soviet dan Indonesia

Hubungan Uni Soviet dan Indonesia pasca-Perang Dunia II mulai berkembang dengan pesat sejak keduanya menjalin hubungan diplomatik pada tahun 1950. Pada saat itu, Uni Soviet membutuhkan sekutu, sedangkan Indonesia membutuhkan dukungan dalam menyingkirkan sisa-sisa Pemerintahan Kolonial Belanda.



Puncak kemesraan antara kedua negara berlangsung pada awal tahun 1960-an, yaitu saat Uni Soviet “membangun” Angkatan Bersenjata Indonesia dari nol. Soviet bahkan mengirimkan angkatan bersenjatanya ke Indonesia. Di antara peralatan militer yang mengeluarkan biaya berkisar satu miliar dolar AS, yang paling menonjol adalah proyek Cruiser 68-bis “Ordzhonikidze” yang dinamakan sebagai KRI Irian 201.

Kapal ini menjadi kapal perang Soviet yang pertama dalam sejarah pasca peperangan yang dialihkan kepada negara asing. Namun, sejarah kapal ini dimulai pada awal perang kemerdekaan Indonesia. Saat itu, ribuan kilometer jauhnya dari Indonesia, para insinyur Soviet ditugaskan membangun armada Indonesia yang lemah pascaperang. Proyek 68-bis memiliki banyak hal unik. Untuk pertama kalinya, insinyur Soviet menggunakan teknologi pengelasan pada lambung kapal dan pengelasan satuan badan kapal yang berbobot 100–150 ton.

Pada akhirnya, terciptalah dengan sukses serangkaian kapal perang yang tak serupa dengan armada negara asing lainnya. Berbeda dengan kapal negara lainnya, kapal perang ini mengangkut meriam kaliber kecil, yaitu meriam kaliber 150 mm sebagai pengganti kaliber 203 mm yang diimbangi dengan performa yang baik. Karena menggunakan senjata kaliber kecil, kapal pun menjadi lebih ringan sehingga bisa meningkatkan survivabilitas kapal. Raksasa ini mengangkut 12 meriam utama kaliber 152 mm, 12 meriam kaliber 100 mm, dan 32 meriam kaliber 37 mm. Selain itu, kapal ini mampu mengangkut hasil tambang dan membawa dua set torpedo tabung kaliber 533 mm.

Kapal “Ordzhonikidze” adalah kapal ketiga dalam rangkaian seri dan dinamai untuk menghormati revolusioner dan politikus Soviet Grigory Ordzhonikidze. Kapal Angkatan Laut Soviet tiba pada tahun 1952. Meskipun masa bakti kapal ini cukup singkat (kapal ini menjadi bagian dari Angkatan Laut Uni Soviet selama 10 tahun), kapal ini setidaknya pernah dua kali masuk dalam sejarah Perang Dingin.

Kejadian pertama terjadi pada saat kunjungan Pemimpin Soviet Nikita Khrushchev di Portsmouth dengan Ordzhonekidze. Saat itu, penyelam strategis Inggris menyelam ke bawah kapal Ordzhonekidze. Tujuan tindakan ini tidak sepenuhnya diketahui, tapi menurut versi lain, mereka ingin memasang bom. Namun hal ini justru berujung pada kematian salah satu pengunjung, yaitu perenang Angkatan Laut Kerajaan Inggris sekaligus intelijen MI6 Lionel Crabb. Jenazahnya tanpa kepala dan tangannya ditemukan 14 bulan setelah kejadian tersebut.

Episode kedua adalah titik balik nasib kapal tersebut dan segala hubungan yang berkaitan antara Uni Soviet dan Indonesia. Namun, hanya sedikit yang kita ketahui mengenai seperti apa sebenarnya peran Soviet dalam membantu perjuangan kemerdekakan Indonesia di dunia.

“Petualangan” kebijakan luar negeri Soviet dimulai dengan kunjungan Nikita Khrushchev ke Indonesia pada bulan Februari 1960. Selama kunjungan tersebut, terjadi penandatanganan perjanjian untuk penyediaan kapal, pesawat, helikopter, tank, dan senjata lainnya. Tidak diragukan lagi, yang paling mahal di antara daftar tersebut adalah kapal penjelajah “Ordzhonikidze”.


Kapal ini berangkat ke Indonesia pada bulan April 1962, hanya selang empat bulan sebelum berakhirnya operasi kembalinya Irian Barat ke pangkuan Indonesia, yang pada saat itu tidak mau dilepaskan oleh Belanda. Dari sini terlihat bahwa peran Uni Soviet dalam momen-momen ini sangat jelas terlihat. Menurut publikasi terakhir yang muncul di media Rusia, pada masa itu Uni Soviet tidak hanya berkomitmen untuk menyediakan pesawat tempur dan peralatan lainnya untuk menyiapkan militer Indonesia. Para perwira dan tentara Soviet terlibat di sebagian pos perang di kapal perang dan kapal selam. Uni Soviet bahkan berhadap dengan sekutu Belanda di NATO, yaitu Inggris dan Amerika dengan pilihan antara kemerdekaan Indonesia atau dimulainya Perang Dunia III. Namun, ternyata mitra Belanda—Inggris dan Amerika—tidak mau memperjuangkan kepentingan Belanda di Indonesia.

Pada akhir masa bakti Ordzhinikidze/Irian menjadi saksi bisu runtuhnya hubungan Soviet dan Indonesia. Setelah upaya kudeta yang dilakukan oleh Gerakan 30 September dan pemerintahan baru mulai berkuasa, Soeharto melarang Partai Komunis dan serikat buruh. Ia melakukan penyensoran dan menindas lawan-lawan politiknya. Simbol persahabatan Soviet dan Indonesia berubah menjadi penjara bagi para pembangkang. Pada tahun 1972 kapal tersebut dilucuti dan penjualan kepada Pemerintah Indonesia pun dibatalkan.

Sumber: RBTH

TNI AD Menang Telak Lomba Menembak, Panitia Sewot

Tim dari Angkatan Darat Indonesia menang telak dalam perlombaanAustralian Army Skill at Arms Meeting (AASAM). Indonesia menggulung Australia, Amerika, dan sejumlah negara Eropa. TNI AD mengantongi 30 medali emas dari 50 medali yang diperebutkan.



Panitia pun sewot dengan kemenangan ini dan meminta agar senjata buatan Pindad yang digunakan dibongkar karena dituduh bentuk kecurangan. “Karena perbedaan perolehan medali yang begitu mencolok, panitia Australia hendak membongkar senjata kami,” kata Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Gatot Nurmantyo sebagaimana dikutip Antara.

Namun Gatot menolak memberikan izin kepada panitia lomba membongkar senjata-senjata yang dipakai perwakilan TNI AD. Jika panitia lomba hendak membongkar senjata TNI, Gatot pun meminta senjata semua peserta juga dibongkar.

Jenderal Gatot pun membantah isu yang menyatakan bahwa peserta lain dalam lomba tersebut mengalah untuk Indonesia. Menurut Gatot, kehormatan negara dan kesatuan militer para peserta dipertaruhkan dalam lomba tersebut. Dengan demikian, mustahil jika ada perwakilan negara tertentu yang pura-pura kalah. “Apakah Marinir Amerika Serikat mau mengalah dalam lomba menembak? Tentu tidak,” ujarnya.

Salah satu anggota kontingen TNI AD, Sersan Dua Misran, juga mengatakan Australia dan negara peserta lainnya kaget melihat perwakilan Indonesia memborong medali. Menurut Misran, panitia lomba mencurigai ada kecurangan dalam spesifikasi pistol G2 dan senapan serbu SS2 V4 buatan PT Pindad Persero yang dipakai personel TNI AD. “Padahal spesifikasi kami sama dengan senapan M-16 buatan Amerika Serikat yang dipakai juga di lomba itu,” tutur Misran.

Dalam lomba tersebut, TNI AD menurunkan 14 prajurit terbaiknya yang berasal dari kesatuan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) dan Komando Cadangan Strategis (Kostrad). Lima staf dan dua tenaga ahli dari PT Pindad juga ikut serta menemani 14 prajurit TNI AD. (Sumber JejakTapak)

Baca Juga: Indonesia Optimistis Masuk 10 Besar Kekuatan Militer Dunia

Inilah Senjata SSX Buatan Pindad Pesaing AK-47

Militer One - PT Pindad berhasil membuat jenis senjata yang dinilai melebihi kemampuan Senapan Serbu (SS) 2. Bahkan, kemampuan senjata baru buatan Pindad ini mengalahkan senapan serbu legendaris ciptaan Mikhail Kalashnikov, AK-47.

Senapan serbu varian terbaru ini murni rancangan insinyur Pindad. “Ini desain asli Pindad,” ujar Direktur Utama PT Pindad Silmy Karim.

Sebelumnya Baca Senjata Sniper SPR Buatan Pindad Bisa Tembus Tank Berkualitas Dunia

SSX menjadi nama sementara yang diberikan Pindad ke jenis senjata ini. “Namanya masih SSX. Nama pastinya nanti kita sampaikan saat launching tahun ini,” kata Silmy. Rencananya, peluncuran dilakukan pada Maret 2016 dan soal penamaan akan diserahkan ke Presiden RI Joko Widodo.

Senapan serbu terbaru ini murni senjata varian terbaru, bukan pengembangan SS-2 atau SS-1 yang berkaliber 5.56 mm dengan jarak tembakan efektif 300 meter yang telah lama dikembangkan dan diproduksi massal. Lantas apa alasan Pindad masuk ke senapan serbu sekelas AK-47?

Silmy mengaku, tren bisnis pengembangan senapan serbu ringan ke depannya bakal bergeser ke arah senapan, dengan jangkauan tembak lebih jauh, yakni kaliber 7.62 mm sehingga Pindad harus menangkap sinyal tersebut. “Tren ke depan dunia masuk ke kaliber 7.62 mm jadi kita menyiapkan diri,”kata Silmy.

Dia menjelaskan bahwa senapan serbu dengan kaliber 7.62 mm telah ada sejak lama, namun kaliber itu bergesar saat adanya Perang Vietnam. “Sebenarnya dulu sebelum perang Vietnam memang trennya 7.62 mm yang populer kemudian pindah ke 5.56 mm saat perang Vietnam,” tambahnya.

Senapan serbu varian baru ini bisa dipakai oleh semua pasukan khusus. “Bisa untuk pasukan apa saja, tergantung operasinya,” ujarnya.

Inilah Senjata SSX Buatan Pindad Pesaing AK-47

Keunggulannya dibanding AK-47


Senjata ini mampu kalahkan AK-47 jika dilihat dari kaliber peluru yang digunakan. SSX menggunakan peluru kaliber 7,62 x 51 milimeter (mm), sementara AK-47 memiliki kaliber 7,62 x 39 mm.

Tidak hanya itu, keunggulan SSX lainnya adalah soal jarak tembak ideal yang diadopsi. SSX memiliki jarak tembak efektif (effective range) 600-800 meter, sementara AK-47 hanya punya jarak tembak efektif sekitar 300 meter.

Senapan SSX ini dirancang dengan menggunakan method reverse engineering, yang artinya senjata dibuat dari gabungan sejumlah produk persenjataan hasil kerjaan Pindad maupun non-Pindad. Misalnya saja rumah mekanik dan penutup diambil dari SS1.

Kemudian bagian laras mengambil kepunyaan senapan penembak runduk (sniper) SPR1. Selain itu,picantinny rail mengambil milik senapan FN SCAR. Namun begitu, SSX tidak sepenuhnya berasal dari gabungan sejumlah komponen senjata. Beberapa diantaranya merupakan rancangan baru, salah satunya adalah popor yang bisa dilipat.

Selain itu, panjang popor juga bisa diatur sesuai dengan kondisi fisik penembak. Dalam pengoperasiannya setiap pucuk senapan SSX dilengkapi dengan magasine berkapasitas 15 butir peluru.

Sampai saat ini Mabes TNI belum melansir rencana melengkapi satuan di tubuh TNI dengan senapan SSX. Akan tetapi, secara garis besar kemunculan senapan ini bisa dijadikan sebagai salah satu barometer semangat pemerintah dalam mewujudkan kemandirian alutsista.

Sumber: liputan6.com (09/01/16), finance.detik.com (12/01/16)

Baca: Inilah Fakta di Balik Senjata AK-47 Karya Kalashnikov

SPR: Senapan Sniper Anti Material Tank Buatan Pindad Berkualitas Dunia

PT Pindad punya tiga produk varian Senapan Penembak Runduk (SPR) atau senapan sniper anti material tank yang berkualitas dunia, yakni SPR-1, SPR-2, dan SPR-3.

Senapan ini bisa menembus baja yang tebalnya 3 sentimeter dari jarak 900 meter. Senapan ini memungkinkan penembak untuk mengatur ketinggian posisi dan stabilitas senapan dengan cara mengatur bipod pada bagian bawah depan laras, melihat sasaran dengan alat bidik tipe teleskop menjadikannya senapan runduk dengan akurasi yang tinggi.

SPR: Senapan Sniper Anti Material Tank Buatan Pindad Berkualitas Dunia


Senapan runduk ini tersedia dalam tiga varian yaitu SPR-1 dan SPR-3 diisi dengan peluru kaliber 7,62 x 51 mm, sedangkan SPR-2 diisi dengan peluru kaliber .50 BMG atau 12,7x99mm

Senapan ini diciptakan untuk menjawab kebutuhan militer Indonesia akan jenis senapan runduk dengan kemampuan tinggi dan harga yang lebih terjangkaujika dibandingkan senapan runduk seperti senapan runduk Zastava M93 Black Arrow buatan Yugoslavia.
SPR-1

Senapan ini jika dilihat sekilas bisa dikatakan versi militer untuk senapan runduk olahraga standar tipebolt action, dengan mengadopsi model senapan Remington 700, peluru tipe 7,62 x 51 mm dimasukan satu persatu secara manual karena senapan ini tidak dilengkapi magazen (magazen chamber).

Dengan bipod, popor model thumb-hole stock dan cheekpiece (dudukan pipi penembak) yang dapat diatur ketinggiannya, dilengkapi dengan alat bidik optik menjadikannya senapan runduk yang memiliki tingkat stabilitas dan akurasi tinggi dalam jarak 500 sampai 900 meter.
SPR-2

Spesifikasi dasar dari senapan SPR-2 hampir sama dengan tipe SPR-1 dengan masih mengadopsi sistem mekanisme bolt action akan tetapi memiliki fitur yang lebih baik dari versi sebelumnya antara lain memiliki magazine chamber, posisi popor yang dapat diatur, dan kemampuan menembus plat baja setebal 2 cm dalam jarak 500 meter.

Hal ini dimungkinkan karena SPR-2 menggunakan peluru kaliber .50 BMG sebagaimana yang digunakan oleh “Heavy Sniper Rifles” atau “Anti Material Rifles” lainnya.

Dengan berat sekitar 16 Kg, senapan ini juga memiliki dimensi yang sangat besar. Kendati terilhami produk-produk senapan antimaterial yang sudah ada, kehadiran SPR-2 cenderung desain sendiri dari PT Pindad. Walaupun pada sebagian sosok, masih mengambil desain dari senapan Zastava Black Arrow M93 buatan Serbia dan Mechem NTW-20 buatan Afrika Selatan.

SPR-2 diharapkan mampu menjadi salah satu produk senjata unggulan dalam negeri 2007, yang kehadirannya dapat menjadi varian produk impor sejenis asal Yugoslavia, Black Arrow M93. Kedua senapan antimaterial ini sama-sama menggunakann peluru kaliber 12,7 mm x 99 (umum pula disebut kaliber .50) dengan isian magasen lima peluru.

Kehadiran SPR-2, membuat produk serupa yang sudah muncul dan dipergunakan berbagai angkatan bersenjata di dunia, menjadi sedikitnya 25 jenis. Sebelumnya, sudah ada produk sejenis, misalnya Gepard M1/M2 (Hongaria, kaliber .50), Barret M82, M90 dan M95, M99, serta M-107 (Amerika, kal .50), SVN-98 (Rusia, kaliber 12,7 mm x 108), Steyr IWS-2000 (Austria, kal .50 dan 12,7 mm x 108), PGR UM-Hecate (Prancis, kal .50), AI AS (Inggris, kal .50), NTW-20 (Afrika Selatan, kal 20 mm), dll.

Menurut Desain Ghrapic Divisi Senjata PT Pindad, Dede Tasiri, diharapkan dapat memberikan efisiensi bagi TNI jika dibandingkan produk impor. Dari hitungan, produksi SPR-2 harga lebih murah dan fungsi sama hebatnya, apalagi jika dibandingkan Black Arrow M93 yang harganya di atas Rp 1 miliar per pucuk dan diketahui banyak yang sudah rusak.
SPR-3

Baca juga: BANGGA! Senjata Buatan Pindad ini Bisa Tembus Tank Baja, Dunia Geger
Memiliki fitur sama dengan SPR-2 tetapi senapan runduk SPR-3 ini mempunyai kemampuan jarak tembak sejauh 700 meter dengan kemampuan penetrasi pada plat baja setebal 3 cm.

Senjata mahal

Penggunaann senapan penembak jitu antimaterial, sudah digunakan sejak Perang Dunia II (1939-1945) oleh pasukan Nazi Jerman (Mauser Tank-Gewehr Model 1918, kaliber .51), Jepang (Tipe 97, kaliber 20 mm), dan Inggris (Boys Antitank Rifle, kaliber .55). Ketiga pasukan tersebut menggunakannya untuk menghantam masing-masing musuhnya, yang berlindung di balik tembok atau berada dalam kendaraan lapis baja.

Usai perang, berbagai negara terutama Amerika, Inggris, Prancis, dan negara-negara Eropa Timur kemudian mengembangkan dengan menggunakann peluru kaliber .50 (disebut pula 12,7 mm x 99) dan kaliber 12,7 mm x 108, yang menjadi standar senapan mesin berat merekaa. Dari berbagai negara yang ikut memproduksi senapan antimaterial, Jerman, Amerika, dan Rusia, yang paling banyak membuat aneka produknya sejenis.

Senapan penembak jitu antimaterial, di pasaran harganya rata-rata sangat mahal sehingga negara-negara pembeli dan dari non- produsen yang keuangannya cekak, biasanya terbatas memiliki.

Sumber: tribunnews.com, accylum.com, id.wikipedia.org

Baca juga: Inilah Fakta di Balik Senjata AK-47 Karya Kalashnikov